Mohon tunggu...
Novi Setyowati
Novi Setyowati Mohon Tunggu... Lainnya - berbagi pengalaman, cerita, dan pengetahuan

berbagi pengalaman, cerita, dan pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Worklife Balance Tidak Bisa Berdiri Sendiri

1 Februari 2021   10:45 Diperbarui: 4 Februari 2021   10:21 249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi pribadi: ilustrasi (Sumber gambar: www.canva.com)

"Kerja keras bagai kuda", kata salah satu iklan yang pernah trending beberapa waktu silam. Ya, kerja keras memang lazim dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Bukan hanya memenuhi kebutuhan secara finansial, tetapi kerja keras terkadang berkaitan pula dengan cita-cita hidup di masa depan atau sekedar mengejar karir yang diimpi-impikan.

Namun, apakah bekerja keras harus mengorbankan kehidupan pribadi dan sosial ataupun waktu kebersamaan bersama teman dan keluarga?

Selayaknya anak sekolah yang menikmati libur semester setelah bekerja keras belajar di sekolah, sepertinya hal yang wajar juga untuk seseorang yang telah bekerja keras dengan pekerjaannya untuk mengambil jatah cuti bekerjanya.

Eits, tunggu dulu, ternyata mencapai worklife balance atau keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan tidaklah semudah itu, kisanak!

Worklife balance tidak bisa berdiri sendiri atau muncul dengan sendirinya. Kitalah yang harus mengusahakannya. Dan mengusahakannya pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada hal-hal yang terkadang menjadi penghalang, ataupun justru sebaliknya, menjadi pendukung tercapainya worklife balance.

Budaya dan nilai-nilai di tempat kerja
Seyogyanya sebagai pekerja, kita memang mematuhi dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di tempat kita bekerja termasuk aturan cuti kerja. Dan hal ini tidak bisa diseragamkan, dalam artian kita tidak bisa menyamaratakan kesempatan cuti di satu kantor dengan kantor lainnya. Semua punya aturannya masing-masing sehingga kita tidak bisa mencari gambaran umumnya.

Misalnya saja untuk beberapa kantor, jatah cuti pekerja diatur sebanyak satu hari setiap bulannya. Sehingga dalam satu tahun kita bisa mengambil 12 hari cuti bekerja. Tapi untuk kantor lainnya, bisa jadi jatah cuti pekerja lebih besar sebanyak 2.5 hari setiap bulannya, sehingga kita bisa mendapatkan total 30 hari cuti setiap tahunnya. Kantor yang lain lagi bisa saja tidak mengijinkan pekerjanya untuk cuti jika belum mengabdi selama minimal satu tahun, misalnya.

Jenis profesi
Bukan hanya itu, melainkan juga jenis profesi yang berbeda-beda turut mempengaruhi tercapainya worklife balance. Untuk pekerja kantoran mungkin lebih fleksibel dalam mengambil cuti, yakni bisa kapan saja asal atasan kita menyetujuinya dan tidak ada tanggung jawab penting tertentu yang menunggu di saat yang bersamaan.

Untuk profesi seorang pengajar, misalnya, di mana seorang pengajar sekolah harus memenuhi tanggung jawab mengajar Senin hingga Sabtu. Mau tidak mau, hari libur hanyalah hari Minggu. Atau ya, sudah pasti menunggu saat liburan sekolah tiba.

Lalu, bagaimana dengan yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan yang harus selalu siap sedia sewaktu-waktu? Atau juga seperti teman saya yang bekerja di perusahaan minyak, yang selalu harus siap sedia jika sewaktu-waktu diminta untuk bertugas di tengah laut (offshore). Atau, ada juga pekerjaan yang selalu menuntut kita untuk melakukan tugas ke luar kota sesering mungkin. Dan masih banyak jenis profesi lainnya yang menuntut kita untuk bekerja di hari Sabtu dan Minggu, bahkan juga di malam hari sekalipun!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun