Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar Seumur Hidup

Nomine Best in Opinion 2021 dan 2022 | Penulis amatir yang tertarik pada isu sosial-budaya, lingkungan dan gender | Kontak : lunasepta@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perempuan dalam Bayang-bayang dan Stigma Infertilitas

20 April 2021   13:13 Diperbarui: 21 April 2021   06:39 749
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi perempuan mengalami infertilitas | sumber gambar : sehatq.com

Perempuan juga dihantui rasa takut dan cemas jika suatu saat suaminya akan berselingkuh atau menikah lagi dengan perempuan lain demi bisa memperoleh anak.

Di masyarakat, perempuan infertil lebih rentan mendapat cibiran. Bahkan dari sesama perempuan.

Seolah-olah perempuan dituntut untuk harus cepat menikah dan punya anak agar dapat memenuhi definisi "bahagia" serta "menjadi perempuan utuh", sebagaimana yang dikonstruksikan oleh masyarakat.

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Infertilitas pada perempuan, terutama infertilitas primer (kondisi ketika pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan) erat kaitannya dengan masalah keputihan.

Keputihan terbagi menjadi dua jenis, yaitu keputihan fisiologis (normal) dan keputihan patologis (abnormal).

Keputihan fisiologis biasa terjadi sebelum menstruasi. Keputihan bisa dikatakan normal apabila tidak berwarna (warna cairan cenderung bening), tidak berbau dan tidak keluar dalam jumlah banyak.

Sementara keputihan patologis biasanya disebabkan oleh virus, jamur atau bakteri sehingga menimbulkan infeksi. Hal ini bisa menimbulkan bau tidak sedap pada organ kewanitaan.

Oleh karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi penting untuk diajarkan pada anak-anak sejak dini. Termasuk cara menjaga kebersihan organ reproduksi, seperti bagaimana cara membersihkan organ intim yang baik dan benar, bagaimana ketika mereka mengalami mimpi basah atau menstruasi dan sebagainya.

Jika anak bertanya sesuatu, jangan buru-buru dimarahi. Jelaskan saja pelan-pelan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami anak seusia mereka.

Tujuannya adalah anak-anak tidak kaget, cemas atau takut jika suatu saat terjadi perubahan pada tubuh mereka. Apalagi saat anak-anak memasuki masa pubertas.

Dengan bekal pendidikan kesehatan reproduksi yang baik, ketika dewasa mereka akan lebih paham apa yang harus dilakukan saat terjadi masalah pada sistem reproduksinya. Mereka tahu ke mana harus bertanya saat mengalami masalah tersebut. Bukan begitu saja percaya pada mitos atau omongan orang yang tidak ada dasar ilmunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun