Mohon tunggu...
KASTRAT BEM FEB UGM
KASTRAT BEM FEB UGM Mohon Tunggu... Penulis - Kabinet Harmoni Karya

Akun Resmi Departemen Kajian dan Riset Strategis BEM FEB UGM

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Kopi Indonesia: Dari Budaya Ngopi Menjadi Bisnis "Go International"

15 Juli 2019   08:55 Diperbarui: 15 Juli 2019   09:20 470
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di sisi lain, persaingan gerai kopi di Indonesia yang relatif tinggi menuntut setiap gerai harus memiliki ciri khas tersendiri, misalnya dalam penamaan produk, estetika gerai, layanan delivery, dan lain-lain.

Keberhasilan Kopi Kenangan dan Fore Coffee tidak terlepas dari kisah sukses startup kopi on-demand asal Cina, Luckin Coffee yang mampu membuat jaringan gerai Starbucks Coffee di Cina 'gigit jari'. Didirikan Oktober 2017 oleh Qian Zhiya, Luckin Coffee berhasil memperoleh valuasi sebesar US$4 miliar per Mei 2019. Luckin Coffee menggunakan pendekatan yang berbeda dari Starbucks. 

Starbucks merupakan gerai kopi asal Amerika Serikat yang berorientasi pada penyediaan gerai yang luas agar customer dapat nongkrong dalam waktu yang lama. Di sisi lain, Luckin Coffee memilih untuk menyediakan gerai yang kecil untuk pengiriman kopi yang dipesan pelanggan melalui aplikasi. 

Luckin Coffee ingin customer tidak perlu repot-repot untuk memesan segelas kopi, Luckin Coffee juga memiliki strategi lain, yaitu 'buy two get one free' dan 'cashless payment'. Ekspansi gerai Luckin Coffee terbilang sangat masif. 

Per akhir 2019, Luckin Coffee diproyeksikan memiliki 4500 gerai. Strategi-strategi yang dijalankan oleh Luckin Coffee ini berhasil menjadikannya kompetitor Starbucks dalam waktu yang singkat.

The Three Waves of Coffee

Budaya minum kopi atau 'Ngopi' merupakan kebiasaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Kita tak jarang melihat orang tua kita, khususnya ayah, menyesapkan secangkir kopi panas di pagi hari seraya membaca koran di depan teras rumah. 

Budaya 'ngopi' di Indonesia tidak akan hadir apabila Belanda tidak menjajah Indonesia. VOC membawa kopi jenis Arabika dari Malabar, India untuk dibudidayakan di Indonesia. Hal ini dilakukan oleh Belanda sebagai upaya menghentikan monopoli perdagangan kopi oleh Arab. 

Kopi pertama kali dibudidayakan di Batavia (Jakarta) dan selanjutnya menyebar ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Belanda sempat menjadi monopolis kopi di dunia dengan pusat produksi di Jawa sehingga satu cangkir kopi sering disebut sebagai cup of java.

Dalam melihat budaya 'ngopi' di Indonesia dan dunia, Trish Rothgeb dalam sebuah artikel di The Flamekeeper pada 2002, mengklasifikasikan perkembangan kopi dalam tiga gelombang, yaitu First Wave, Second Wave, dan Third Wave.

Dalam First Wave Coffee, pengusaha kopi memiliki visi untuk meningkatkan konsumsi kopi masyarakat dengan menghadirkannya di setiap dapur rumah masing-masing. Satori Kato berhasil mematenkan kopi instan pada 1903 dengan nama awal "Coffee Concreate and Process of Making Same". Kopi instan Nestle, yaitu Nescafe muncul sebagai merk inovatif pada 1938. 

Di sisi lain, terdapat merek-merek terkenal lainnya seperti Folgers, Maxwell House, dan Mr. Coffee. Begitu juga dengan kopi instan asal Indonesia, layaknya Kopi Kapal Api dan Kopi Berontoseno. Berbagai inovasi pengemasan hadir seperti airtight cans dan Vacuum Packaging untuk menjaga kualitas bubuk kopi agar dapat bertahan lebih lama. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun