Mohon tunggu...
Geyonk
Geyonk Mohon Tunggu... Wiraswasta - Warga 62

Photomood, Saya dan kopi hitam .:: IG::.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Fotografi: Cerita dari Wayang Kulit

10 Desember 2016   11:27 Diperbarui: 10 Desember 2016   12:41 436
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Gatholoco nulyà ngucap, "Dalang wayang lawan kělir, lan baléncong ngěndi kang tuwà, badéněn cangkriman iki. Yèn sirà nyàtà wasis, městhi wěruh ingkang sěpuh."

Salah satu percakapan dalam kitab yang paling kontroversial, Serat Gatholoco. Terjemahannya kurang lebih seperti ini, Gatholoco kemudian berkata, "Dalang wayang dan kelir, serta blencong mana yang paling tua, tebaklah peribahasa ini. Bila kamu memang pandai, pasti mengetahui mana yang paling tua sendiri." 

Wayang dan Dalang tentu kita sudah jelas tahu, kelir adalah batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang, dan blencong adalah lampu penerang yang ada di atas dalang, Pada jaman dahulu kala, blencong menggunakan sumbu dan minyak kelapa, hari ini biasanya lampu halogen yang digunakan. Kembali ke pertanyaan yang diajukan Gatholoco, kira-kira manakah yang tua? 

Blencong adalah jawabannya menurut Gatholoco, walaupun wayang sudah dijejer dalam kelir, dalang sudah siap, tanpa ada cahaya yang bersumber dari blencong, sia-sia pagelaran wayang tersebut. Tiada cahaya, apa yang akan terlihat. Blencong asale sàkà wahananing Gusti Kang Murbeng Dumadi.  Cahaya blencong adalah cahyà sejati, yang menerangi seluruh pagelaran wayang kulit.

Sang Hyang Wenang | dok. pribadi
Sang Hyang Wenang | dok. pribadi
Fotografi menganut prinsip yang kurang lebih sama, ada kamera, ada fotografernya, ada subyek dan properti pendukung lainnya, tanpa ada cahaya maka tidak akan ada pertunjukan, tidak akan ada cerita yang bisa ditampilkan. 

Terinspirasi dari Wayang 

Ceritanya sederhana, wayang kulit itu nikmatnya dilihat dari balik beber(layar) dimana bayangan wayang yang nampak sangat dinamis tercipta, sangat jelas bila menempel/dekat dengan beber dan bayangan wayang semakin kabur bila menjauhi beber, maka saya coba untuk menciptakan bayangan/shadow itu senyata mungkin dan melebur dengan subyek foto.

Tes pertama, ini terlihat agak narsistik, untung ada prop yang sedikit unik.

Anonymous atau Vendetta? | dok. pribadi
Anonymous atau Vendetta? | dok. pribadi
Tidak begitu asik terlihat, kedua ini topeng sakit dipakainya. Mungkin karena murah.

Tes kedua, coba pake ini

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun