Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Sosialisasi Vaksin Meningitis Berkelanjutan Jadi Kebutuhan

19 Maret 2019   11:55 Diperbarui: 19 Maret 2019   13:14 519
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

isi formulir Foto | Dokpri
isi formulir Foto | Dokpri
**

Permohonan seorang warga melalui percakapan dengan petugas kesehatan di atas adalah salah satu upaya 'bujuk rayu' mendapatkan buku vaksin meningitis tanpa disuntik. Dalam bahasa asing buku itu disebut International Certificate of Vaccination or Prophylaxis.

Sangat penting bagi yang ingin menunaikan ibadah umrah dan haji. Tentu, ini sangat disayangkan. Pasalnya, seseorang ingin mendapatkan buku vaksin tanpa disuntik jelas menyalahi prosedur. Meski alasan yang disampaikan masuk akal, yaitu vaksin meningitis bersentuhan atau mengandung zat babi ketika dalam proses pengolahannya.

"Hari gini masih tanya vaksin mengandung babi," kata seorang petugas kala orang yang bersangkutan telah meninggalkan ruang pemeriksaan.

Pengamatan penulis, dalam sehari, sekitar 300 orang mendatangi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta, Wilayah Kerja Halim Perdanakusuma, di Jalan Jengki, Jakarta Timur. Dan pada Senin (18/3/2019) kemarin, kami sekeluarga melakukan vaksin meningitis untuk memenuhi persyaratan menunaikan ibadah umrah, Ramadhan nanti.

Putra kami, Andri Ganesa, batal disuntik meningitis lantaran pada dua hari mendatang akan donor darah. Saran petugas, usai donor darah, baru boleh melakukan suntik meningitis. Mengapa? Agar proses kekebalan vaksin tersebut dapat bekerja sempurna.

Nah, ketika penulis hendak diwawancarai untuk suntik meningitis itulah didapati seorang yang sama-sama berada di ruangan "merayu" petugas agar tak disuntik meningitis yang meski pada akhirnya disuntik juga. Hehehe.

Juga di ruang yang sama, ada seorang lainnya memaksa petugas untuk disuntik meningitis. Petugas menolak lantaran yang bersangkutan, kala mengisi formulir dan diwawancarai, mengaku punya penyakit alergi bila disuntik vaksin tersebut.

"Bapak harus diperiksa dulu di rumah sakit. Itu saran saya. Toh, keberangkatannya masih lama," pinta petugas kesehatan.

Lama orang ini tak mau beranjak dari ruang pemeriksaan. Petugas terus menerus meminta agar ia mau bersedia memeriksakan kesehatannya di rumah sakit, untuk memastikan kesehatannya baik. Karena ia tak mau juga keluar, tentu saja hal itu sangat mengganggu pelayanan. Sementara antrean di luar sudah banyak orang menanti untuk dipanggil.

Suasana di kantor pelayanan. Foto | Dokpri
Suasana di kantor pelayanan. Foto | Dokpri
**

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun