Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Raket Artikel Utama

Carolina Marin dan Greysia Polii, Menyaput Lara di Impact Arena

19 Januari 2021   15:37 Diperbarui: 19 Januari 2021   16:33 783
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Carolina Marin saat menghadapi Tai Tzu Ying di final Yonex Thailand Open 2021:https://twitter.com/bwfmedia

Carolina Marin saat menghadapi Tai Tzu Ying di final Yonex Thailand Open 2021:https://twitter.com/bwfmedia
Carolina Marin saat menghadapi Tai Tzu Ying di final Yonex Thailand Open 2021:https://twitter.com/bwfmedia

Kemudian, Marin mencapai klimaks. Ia membekuk pemegang rekor head to head 9-6 sekaligus memperkecil catatan ketertinggalan atas Tai.

"Saya tidak baik dengan diri saya sendiri, karena ayah saya meninggal beberapa bulan lalu," Marin berbicara kepada situs resmi BWF usai kemenangan atas Tai.

Namun duka tersebut coba dilebur dengan semangat untuk segera bangkit. Ia tahu setiap badai pasti akan berlalu, meski jelas tidak mudah. Karena itu, ia meyakinkan diri untuk berkomunikasi dengan tim, pelatih, hingga meminta saran psikolog.

"Saya merasa sangat senang bahwa saya bisa berubah pikiran dari tahun lalu; Saya mengalami tahun yang sulit secara pribadi pada tahun 2020, tetapi saya pulih dengan baik," ungkapnya semringah. Kini ia menatap turnamen selanjutnya, termasuk mulai berani untuk berpikir target besar selanjutnya antara Olimpiade atau Kejuaraan Dunia.

Bagaimana Axelsen? Tunggal terbaik Denmark ini pun mengalami masa-masa tak kalah sulit seperti Marin. Operasi pergelangan kaki memaksanya kehilangan kesempatan bermain di rumah sendiri, Denmark Open tahun lalu.

Ia tak lagi bermain sejak naik meja operasi. Diperparah lagi dengan wabah Corona yang menutup harapannya untuk kembali ke lapangan pertandingan. Ia sempat merasa aneh saat berangkat ke Bangkok. Perasaannya campur aduk antara percaya dan tidak.

Meski begitu, setelah tak lagi naik podium juara usai memenangi All England 2020, ia berusaha bangkit. Mengatasi berbagai tantangan dan perasaan campur aduk.

"Jadi saya bangga dan senang bisa memenangkan turnamen ini, karena tidak mudah melawan lawan yang begitu bagus."

Oh ya, satu lawan yang tentu tak lepas dari ingatannya adalah Anthony Sinisuka Ginting, andalan Indonesia di semi final. Axelsen sebenarnya bisa kehilangan medali juara andaisaja Ginting tak kehilangan fokus setelah sempat memimpin 11-7. Bila Ginting mampu menjaga konsistensi, maka hasil akhir tunggal putra akan berbeda.

Doa Terjawab
"Dia seperti ayah saya. Dia 18 tahun lebih tua, dia memperlakukan saya seperti anak perempuannya dan saya memandangnya sebagai ayah saya. Setelah ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia dua tahun, dia mengurus seluruh keluarga. Dia sangat mendukung karier bulutangkis saya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun