Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kolaborasi Indah Pagelaran Wayang Kulit Masa Kini

18 September 2016   12:59 Diperbarui: 18 September 2016   20:26 588
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.

Bergaya rocker.
Bergaya rocker.
Wayang Kulit, sebagai salah satu budaya asli Nusantara yang kini juga diakui oleh dunia, harus diakui sejak 30 tahun terakhir mulai sedikit dijauhi oleh sebagian warga.

Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi di antaranya: banyak yang telah mengetahui kisahnya, memerlukan waktu semalam suntuk untuk menikmatinya, dan yang agak menjadi suatu keanehan bahwa kisah dan ajaran wayang dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama, terutama dalam hal ini menyangkut ‘keberadaan para dewa’

Sekitar lima belas hingga sepuluh tahun yang lalu, ada televisi swasta yang mau menampilkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan segala macam perubahan penampilan yang cukup untuk membuat masyarakat tertarik. Namun, seiring perubahan jaman lambat laun mulai ditinggalkan lagi. Memang sekali waktu masih ada yang mau menampilkan selain TVRI.

Para seniman, budayawan, serta pemerhati wayang kulit sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberi nilai tambah pada pagelaran wayang kulit agar lebih menarik dan tentunya kaum muda untuk tidak meninggalkan kesenian Nusantara ini.

* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
Bila pada 30 – 10 tahun yang lalu, sebelum pagelaran di mulai biasanya para wiyaga selalu melantun tembang-tembang Jawa karawitan klasik dengan tembang macapat yang sudah tak dikenal lagi oleh kaum muda selain hanya sebagai pengetahuan budaya. Apalagi lagu-lagunya selalu berirama melankolis mendayu. Atau paling tidak menampilkan tari Remo, bila di wilayah Jawa Timur yang irama dan gerakannya amat dinamis.

Pada pagelaran di hari Sabtu, 10 September 2016 di Seminari Tinggi SVD Malang merupakan salah satu contoh yang sering dilakukan para seniman wayang kulit.

Ditampilkan tembang-tembang campursari atau lagu-lagu Jawa populer yang kini sudah tidak terlalu asing bagi telinga kaum muda. Alat musiknya pun bukan sekedar seperangkat gamelan ditambah elektone seperti biasanya. Tetapi juga dilengkapi dengan drum, gitar, bas, dan drum elektrik. Pemainnya pun tidak berpakain klasik Jawa, tetapi bergaya masa kini termasuk potongan rambutnya. Para wiyaga atau pengrawit atau penabuh gamelan bukan hanya kaum tua tetapi juga kaum muda termasuk sindennya.

* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
Bagaimana dengan penyanyi dan tembang-tembangnya? Memang pesinden yang mengiringi tembang-tembang dalam dialog dan peperangan masih menggunakan jarit dan kebaya, tetapi yang mengisi acara pembukaan dan goro-goro (dialog ala orang kecil yang penuh humor namun penuh nasehat dan kritik di tengah pagelaran) tidak lagi memakai baju tradisional tetapi dengan celana jean, jaket kulit, dengan gaya sedikit rock ‘n roll atau Poco-poco. Soal lagu dan tembang bukan campursari dan dangdut yang ditampilkan.

Lagu Pepito Mi Corazon lagu Spanyol, Alucia lagu Batak, Massachuset (kami ganti dengan Gubuk Klakah, Sawojajar, Madyopuro, dan juga pernah Jogjakarta), bahkan Dream of Me, dan Vision pun pernah kami tampilkan. Heboh? Geger tentu saja…. Tapi mereka kaget dan senang.

* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
Bagaimana dengan pagelaran wayang kulitnya? Lampu blencong di depan layar bukan sekedar lampu untuk memperjelas adanya wayang. Tetapi dengan lampu warna-warni bergaya disko saat pertarungan antar tokoh yang berseteru atau saat Punokawan, Lembuk, dan Cangik berjoged menjadi daya tarik yang luar biasa.

Bukan hanya itu, pada 12 tahun yang lalu saat hari ulang tahun sekolah kami, ditampilkan pula dengan sinar laser. Tentunya, dengan keahlian ki dalang dalam menarikan wayang di depan blencong bisa membuat bayangan wayang dengan wujud kontemporer. Beda dengan gambaran pagelaran konvensional wayang pada masa lalu.

Ki Dalang masa kini pun, menyadari bahwa pagelaran wayang kulit bukan hanya menyampaikan kembali sebuah kisah kritikal yang penuh nasehat moral dan etika secara dogmatis. Tetapi menampilkan juga kekonyolan para tokoh yang selama ini dianggap sebagai panutan yang tak pernah melakukan kejahatan namun berbuat konyol.

* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
* Semua foto dokumen dan jepretan sendiri.
Misalnya ketika Sri Kresna dalam lakon Ki Semar Mbangun Khayangan, malah dicacimaki Baladewa karena Sri Kresna sebagai titisan Sri Wisnu terlalu gegabah, ceroboh, dan emosional menghadapi Ki Semar yang hanya seorang penghuni padepokan kecil di pinggir Amarta.

“ Oaaalaaa…. kowe kuwi Kresna titisan Wisnu kok ya guuuuoblok ora nganggo rasa ngedepi Ki Semar sing mung duwe gaman entut!”

(Oalaaaa….kamu Kresna titisan Dewa Wisnu kok ya bodoh tanpa menggunakan hati untuk menghadapi Ki Semar yang hanya bersenjata buang angin!”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun