PROLOG
"Aku bahagiaaaa banget punya suami kayak kamu." Alista menatap suaminya dengan penuh rasa sayang, sepasang binar cahaya lilin menerangi malam ini sebagai perayaan bulan madu kedua pernikahan mereka, dan remang bulan tetap sama indahnya, kuning kusam dan agak samar tergantung di langit tanpa awan, ketika cinta pertama kali dirayakan. "Aku tahu kenapa Allah ciptakan kamu, buat aku, kan?"
Vito tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu, ia langsung memeluk Alista dan mendengarkan lenguhnya. "Aku lebih tahu daripada kamu, aku diciptakan lebih dulu sebelum kamu.Â
Bahkan sebelum semesta ada kita." bisikan itu masuk dengan halus ke telinga Alista, ia memejamkan mata dan mengendap di selongsong dada pria yang disayanginya. "Dan untuk pertanyaan itu, alasan kamu ada adalah kita, sebagai tulang rusuk yang dipisahkan untuk sementara hingga aku menemukannya." ujar Vito kembali, hingga merekah  dada keduanya bak mawar yang baru mekar. "Aku tahu, selama ini aku telah—"
"Ssssst ...." desus halus dari Alista, ia menutup kedua gerbang suara itu. "Aku tidak pernah menyesal."
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H