"Ayah mau pergi?"
"Iya, Nak!"
"Kan, hari libur?"
"Ikut Ayah, mau?"
Ini percakapan pagi tadi, dengan gadis kecilku. Untung naluriku sebagai ayah, bekerja dengan baik. Ajakan tanpa pikir panjang itu, ternyata bisa hadirkan senyuman, sekaligus menyelamatkan hari terakhir liburan anakku.
Sekilas, sepertinya pertanyaan sederhana. Namun aku mengerti, itu adalah "pernyataan bernada pemberontakan". Bisa saja dimaknai dengan kalimat, "Hari libur, masih tak ada waktu buat anak?"
Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, jadi kepikiran. Jika interaksiku dengan anak-anak dianggap sebuah buku harian. Aku jadi tak berani menghitung, berapa banyak "halaman yang hilang" dari diari anak-anakku! Tanpa keberadaanku sebagai ayah. Perih, ya?
Coba tanyakan pada perempuan masa kini. Sosok ayah idaman, adalah kepala keluarga yang tak hanya berperan sebagai pencari nafkah. Tapi juga sosok suami  yang juga memiliki keterampilan mengurus keperluan rumah tangga, dan ikut berperan dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Berdasarkan pengalamanku. Saat ini, tak lagi berlaku alasan ayah sibuk! Ayah bekerja untuk keluarga!
Dulu, seakan ada garis tegas. Peran ayah sebagai pencari nafkah dan mengelola urusan di luar rumah. Â Kemudian ayah digambarkan sosok yang keras, tegas, disiplin bahkan kaku.