Mereka memburu sensasi. Baik saat ikan menyantap kail, saat baku tarik dengan sang ikan, atau semata hiburan, silaturahmi, bahkan relasi bisnis.
Nah, boleh jadi, peluang inilah yang ditangkap pemilik dan pengelola BHS, H Ahmad Hardi Soemadisastra ketika menghadirkan arena pemancingan ini tujuh tahun silam.
"Dulu, boleh dibilang, saya ini maniak memancing. Jadi, saat membangun BHS ini saya menempatkan diri sebagai pemancing. Saya tahun apa yang diinginkan pemancing," kata H Hardi.
Apa yang diharapkan pemancing pada satu arena, itulah yang coba diwujudkannya. Kolam luas, hampir mendekati luas lapangan bola. Lapak-lapak lega, sehingga para pemancing leluasa bergerak.
Teknologi digital pun sudah digunakan secara optimal, mulai dari timbangan yang terhubung ke jaringan server data dan display LCD, hingga kamera cctv di semua sudut strategis.
Fasilitas pendukung lengkap. Ada 30 kamar berstandar hotel berbintang, restoran, lobi yang dilengkapi perangkat karaoke, dan pojok arena bermain anak-anak.
"Bahkan kalau ada tamu dari luar kota minta dijemput di bandara, kami pun siapkan fisilitas istimewa untuk itu," ujarnya seraya menunjuk sebuah Mercedez di areal parkir.
Pada awal wabah Covid-19 melanda, H Hardi menutup BHS sesuai ketentuan pemerintah. Lalu saat buka kembali hingga kini, BHS dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat.
Tamu dan pemancing harus mengenakan masker. Pengaturan jarak, rempat cuci tangan tersedia di berbagai sudut yang mudah dijangkau. Kontrol suhu, cairan pembersih tangan, bilik semprot disinsfektan, dan penyemprotan seluruh areal setiap selesai acara.
Kolam ini dibangun dengan standar tinggi, mulai dari penampang, ketinggian ideal, jaringan pipa bawah air untuk memasok oksigen, pengaturan suhu, kontrol keasaman, sirkulasi, dan sebagainya.
"Itu mutlak dilakukan agar kondisi kolam sesuai dengan habitat dan ekosistem ikan sealamiah mungkin," tambahnya.