Desis masinis berjarak mendekat
Meletupkan suara asap pada rel besi menggerigi
Sejenak kakimu terhenti --dihadapku
Peluit panjang menepi pula
Kau tanya "Apakah kau rindu?"
Roda-roda tersenyum simpul
Per mendengkur dibadan sepur.
Kereta cepat kilat pergi lagi
Pelumas mempercepatnya
Ku terpecut oleh rimbunan orang --duduk di gundukan tempatmu mengeluh
Kau bertanya nyinyir
Ku berbisik nyengir "Ku tak menunggu kau!
Daku rindu pada ramai gerbong-gerbong antrean bertiket,
daku rindu harum karat besi pada tulang stasiun ini!"
Mojokerto, 10 April 2017
Puisi ini dimuat dalam buku antologi bersama yang berjudul Kereta Kelana pada tahun 2017
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI