Bagaimana ku gambarkan sepasang hujan dan cahaya jatuh pada kaca tempat kau saksikan anak-anak bermain hujan. Di sisi se cangkir kopi yang telah mengajari rasa sebenar hakiki. Dalam pemberitaan cahaya bulan, selingkup awan tak berkisar dari halaman buku. Seharusnya buku yang telah terlalu lusuh untuk belajar mengeja kata demi kata. Bagaimana bisa kau bunuh kata itu satu persatu yang begitu damai terlelap dalam ingatan.
Sepasang hujan dan cahaya jatuh menjelma kalimat yang akan menindih sekujur tubuh, begitulah jalan direntang seperti tali. Jangan terlalu kau raih.
Ngilu hujan menakdirkan sunyi dan gigil dari ubun ke kaki. Dan cahaya datang entah membawa pulang dengan sayap terentang menajamkan tali yang lama terentang.
Esok pagi mungkin matahari melahirkanmu kembali dari timur tempat pernah kau seduhkan kopi. Atau, telah mengisi lorong dengan gigil bisu terpatah dari kata-kata dan puisi. Untuk apa lagi lantunan musik lembut diruangan itu, tidak akan pernah mengiringi jalanmu. Karena jalan itu telah menjelma cahaya-cahaya dan engkau entah di mana.
Maret 2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI