Bergejolak! Keputusan menaikan harga bahan bakar minyak, menimbulkan aksi penolakan di berbagai daerah. Diksi kebijakan adalah penyelamatan anggaran.
Pertanyaannya, kenapa pilihan keputusan yang mendasarkan diri pada upaya "menyelamatkan", justru ditolak oleh pihak yang akan "diselamatkan"?
Subsidi bahan bakar yang membengkak, dari Rp 152.5 triliun menjadi Rp 502.4 triliun. Karena itu, pilihan kebijakan bukan kenaikan, melainkan "penyesuaian".
Situasinya pelik. Cekikan harga bahan bakar minyak sebagai komoditas internasional, sulit dihindari. Di sisi lain, kelemahan problem internal juga terkuak.
Penerima subsidi, selama ini dinikmati 70% oleh kelompok masyarakat yang mampu. Kesalahan alokasi tersebut telah berlangsung lama, dan diabaikan.
Kombinasi dua hantaman tersebut, naiknya harga acuan minyak dunia, dan tidak tepatnya sasaran penerima subsidi, menjadi penyebab kebijakan penyesuaian.
Dengan opsi terakhir tersebut, proses distribusi subsidi dialihkan pada kelompok masyarakat yang tidak mampu, melalui berbagai instrumen bantuan sosial.
Rasionalitas Alasan
Runutan latar belakang yang ditampilkan sebagai dasar keputusan, harus dibaca secara utuh dan dikaji letak keterkaitan satu dengan yang lain, secara rasional.
Seluruh uraian yang disampaikan, nampaknya tidak dapat dielakkan. Realitas ekonomi, memang begitu adanya. Tapi perlu untuk membaca realitas sosial.