Mohon tunggu...
Yossy FabienLeimena
Yossy FabienLeimena Mohon Tunggu... Akuntan - Mahasiswa pencinta tulisan dan hitungan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mahasiswa FEB UMSU aktif di relawan perpustakaan dan hobi musik dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Bersinarlahlah Bulan Purnama

17 Januari 2020   10:05 Diperbarui: 17 Januari 2020   10:10 801
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sudah 2 tahun Edo ikut orangtuanya menetap di Finlandia, Edo merasakan rindu yang teramat sangat kepada tetangganya di Indonesia, Valdy. Edo dan Valdy sudah akrab sekali bagaikan saudara di komplek perumahannya di Palembang. 

Bukan hanya Valdy, Edo juga rindu kepada empek-empek, masakan khas Palembang yang selama ini menjadi makanan favoritnya dan kerap kali dimasak oleh Bu Deti, ibu Valdy. Empek-empek buatan Bu Deti memang terkenal hingga selalu banyak dipesan oleh masyarakat sekitar. 

Edo tak bisa melupakan momen dimana ia dan Valdy berpelukan hingga menangis saat akan berpisah. Edo mewanti-wanti kepada ayahnya untuk berlibur ke Indonesia bila musim libur tiba. Ayah Edo berkata bahwa itu nanti dipikirkan, karena masih banyak urusan lain yang harus segera diselesaikan.

Edo mengiyakan apa kata ayahnya, ia tak mau banyak permintaan untuk saat ini. Sementara di Indonesia, tepatnya di Palembang, Valdy tetap merasa rindu dengan tetangganya Edo yang telah pindah ke Finlandia meski ia punya teman main baru. 

Teman main Valdy ikut rindu dan berdoa agar bisa berkumpul bersama lagi. Sesungguhnya Valdy ingin bicara pada orangtuanya bila suatu saat ada rezeki, ia ingin berlibur ke Finlandia bertemu Edo, namun ia sungkan mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk ke Finlandia tidaklah sedikit. Jangankan ongkos berlibur, ongkos telepon ke Finlandia juga mahal. Bimbanglah hati Valdy akan hal ini.

Baik Edo maupun Valdy, keduanya sama-sama jarang mendapat kesempatan untuk berkomunikasi sejak tinggal di negara yang berbeda. Mereka sama-sama bertanya mengapa ini harus terjadi dimana perpisahan antar tetangga berujung pada komunikasi yang jarang terjalin.

Valdy bersekolah di salah satu sekolah dasar negeri di Palembang, sedangkan Edo bersekolah di Helsinki. Mereka masing-masing mendapat teman baru, namun tetap berusaha menjalin komunikasi.

Edo diberi tugas oleh gurunya menulis karangan tentang sahabat yang paling disayang. Malam hari waktu Helsinki Edo menulis karangan tentang Valdy, tetangganya di Palembang, Indonesia. Ia melihat bulan purnama telah naik ke angkasa dan bersinar terang serta menenangkan jiwa. 

Selesai menulis karangannya Edo mengamati bulan purnama itu sembari berkata," Andaikan Valdy datang kemari melihatku disini, jawaban apa yang akan aku beri padanya". Valdy juga melihat bulan purnama di Palembang yang menyinari seluruh kota.

"Bersinarlah bulan purnama, seindah serta tulus hati Edo, bersinarlah terus sampai nanti rindu ini kulepaskan untuk Edo," bisiknya. Kesetiaan nampaknya tetap akan ada di antara Edo dan Valdy meski telah tinggal di negara yang berbeda. Keduanya sama-sama mulai menabung untuk nanti bertemu. 

Di sekolah, Edo yang paling dahulu maju ke depan untuk membacakan karangannya tentang sahabat yang paling disayangi. Edo membacakan tentang Valdy, sahabat sekaligus tetangganya saat masih di Indonesia yang setiap hari bermain dengannya, menginap satu sama lain, dan belajar bersama asal pulang sekolah. 

Ia bercerita semalam berdoa pada tuhan dan tanya bulan purnama yang bersinar apa Valdy masih akan setia padanya. Selesai bercerita, guru Edo memberikan nilai A atas karangan Edo yang menyayat hati.

Antero, teman Edo di Finlandia, memuji karangannya tentang sahabat yang paling disayangi. Antero mengajak Edo untuk berkunjung ke rumahnya. Antero akan membantu Edo untuk berkomunikasi dengan Valdy. 

Sementara Valdy, ia memang mendapat sahabat pengganti Edo yang bernama Fuza. Fuza memaklumi Valdy yang tak bisa melupakan Edo yang telah lama bersama. "Kamu tidak usah sedih, aku akan jadi sahabat yang setia untukmu, aku tidak marah kok kalau suatu saat kamu komunikasi lagi sama Edo, sebenarnya aku juga rindu dia Val," kata Fuza. 

Valdy perlahan mulai akrab dengan Fuza, tetapi ia berusaha untuk tetap setia dan menunggu Edo meneleponnya. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, Valdy baru selesai mandi dan ingin masuk kamar untuk pakai baju tidur. 

Namun sebelum masuk kamar ia mendengar telepon dirumahnya berbunyi, awalnya ia heran mengapa tumben telepon berbunyi jam segitu, namun ia angkat saja meskipun masih memakai handuk. 

Alangkah senang hati Valdy mendengar itu adalah Edo yang meneleponnya dari Finlandia. Edo diajak oleh temannya Antero untuk pergi ke telepon umum dekat rumah Antero yang bisa menelepon antar negara. "Bagaimana kabar kamu di Indonesia Val, walaupun aku sudah di Finlandia, aku tetap ingat dan tidak akan lupakan kamu, ini teman aku Antero yang bantu aku untuk bisa telepon kamu," kata Edo. 

Valdy sambil menitikkan air mata bahagia mengatakan bahwa ia juga rindu pada Edo yang sejak lahir menjadi tetangga sekaligus sahabatnya di Palembang. 

Mereka berkomunikasi selama 20 menit saking rindunya. Waktu memang menunjukkan pukul 15.00 kalau di Finlandia, terpaut 5 jam dari waktu Indonesia. Antero ikut terharu melihat kesetiaan antara Edo dan Valdy.

Selesai berkomunikasi, Edo dan Valdy sama-sama menangis untuk melepas rindu yang tak sudah-sudah. Antero dengan senang hati mengantar Edo ke apartemennya. 

Orangtua Edo membukakan pintu, mereka sangat terenyuh melihat Edo yang begitu setia pada tetangganya Valdy yang telah ditinggalkan di Indonesia. "Sabar ya nak, kita akan kumpulkan uang untuk pergi ke Indonesia untuk melepas rindu pada Valdy, ayah tidak mau lagi membiarkan kamu terus begini nak," kata ayah Valdy. 

Di Indonesia, Valdy tidur dengan memeluk foto dirinya dengan Edo. Saking rindu hingga mengantuk, Valdy lupa untuk menutup pintu kamar. Bu Deti melihat putranya tidur dengan foto dirinya bersama Edo. "Sungguh setia kamu nak sama tetangga kamu dulu walaupun sudah 2 tahun tidak bertemu sampai kamu peluk fotonya," gumam Bu Deti sambil tutup pintu kamar Valdy. 

Valdy hampir saja terlambat bangun pagi saking nyenyaknya tidur. Ia pergi ke sekolah dengan terburu-buru. Ia tak sadar ibunya sedang menelepon Edo.

Bu Deti sengaja ingin merahasiakan kabar bahwa Edo bersama orangtua dan temannya Antero akan datang ke Palembang, Indonesia. Beliau ingin memberikan kejutan kepada Valdy. 

Mereka akan datang ke Indonesia minggu depan. Sepulang sekolah Valdy dan Fuza datang untuk bermain kelereng bersama. Valdy melihat ibunya memasang wajah gembira yang tak biasa, Valdy bertanya namun sang ibu menjawab bahwa ia akan mengetahui sendiri.

Seminggu kemudian, Valdy mendengar suara ketukan pintu saat ia hendak membantu ibunya memasak empek-empek. Bu Deti meminta Valdy untuk membukakannya. Ternyata itu adalah Edo yang datang menemuinya ditemani orangtua dan temannya Antero. 

Betapa senang hati Valdy melihat tetangga lamanya datang setelah 2 tahun lamanya. Valdy tak sungkan untuk berkenalan dan berteman dengan Antero. "Bulan telah bersinar terang sampai akhirnya rinduku pada Edo terlepas," gumam Valdy.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun