Judul di atas adalah satu "pesan" yang datang saat saya refleksi dan berdoa di momen pergantian tahun. Boleh dibilang, inilah resolusi saya di Tahun Baru 2023.
Sebenarnya, situasi ini sudah ada, sejak saya mulai aktif menulis tahun 2016. Waktu itu, saya awalnya ragu, karena tidak pernah ikut kelas menulis apapun, tapi, karena dorongan dari teman dan mendapat pesan dari khotbah di gereja, saya akhirnya berani memulai, dan itu bergulir sampai sekarang.
Saya ingat, pesan itu hanya berkata, "Mulailah dari apa yang paling bisa kamu lakukan". Simpel, tapi bisa jadi pelecut semangat yang ampuh.
Terlepas dari semua dinamika naik-turun yang ada, satu hal yang membuat saya selalu merasa nyaman dengan dunia tulis-menulis ini.
Dia tidak pernah memandang kekurangan fisik saya, yang selama bertahun-tahun jadi objek diskriminasi. Mulai dari jadi sasaran bully, sampai dibentur syarat "sehat jasmani rohani".
Dari menulis, saya menemukan ruang bebas untuk menjadi diri sendiri, berpendapat sejujur mungkin sampai tuntas, tanpa ada label "masih bocah" atau semacamnya. Bonusnya, ada banyak teman yang sangat menerima, baik saat sedang bercanda atau serius.
Soal penghasilan, jumlahnya memang tidak menentu, seperti naik jet coaster, tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang relatif minimalis.
Memang, sejak kembali ke dunia freelance  dua tahun terakhir, ketidakpastian ini sebenarnya bukan masalah, karena memang sudah jadi risiko.
Masalahnya, ada satu hal, yang sempat memukul mental saya, disamping kondisi kesehatan yang sempat naik-turun imbas cuaca ekstrem belakangan ini.
Secara menyakitkan, apa yang saya kerjakan kadang tidak dianggap sebagai pekerjaan di lingkaran terdekat, tapi pemasukan yang datang justru tetap diminta dan terpakai untuk patungan membantu membayar kebutuhan rutin atau membeli kebutuhan bersama.