Dalam bursa transfer musim panas 2022, Manchester United menjadi satu tim yang cukup sering masuk pemberitaan media. Bukan karena mereka membeli banyak pemain, tapi karena ada banyak pemain yang mereka incar, khususnya di lini tengah.
Pos dapur serangan ini tampaknya jadi prioritas pelatih Erik Ten Hag, karena menjadi koentji dalam strategi sepak bola menyerang versinya. Seperti diketahui, pelatih asal Belanda itu cukup mengandalkan lini tengah untuk menjaga keseimbangan dalam menyerang dan bertahan.
Sejauh ini, Â untuk pos lini tengah, MU sudah kedatangan Christian Eriksen. Gelandang serang andalan Timnas Denmark itu diboyong secara gratis, usai kontraknya di Brentford kadaluarsa.
Meski sudah punya Eriksen, Setan Merah tampaknya masih belum puas. Terbukti, setelah negosiasi transfer Frenkie De Jong (Barcelona) dan Adrien Rabiot (Juventus) buntu, nama-nama mahal seperti Joao Felix (Atletico Madrid), Sergej Milinkovic-Savic (Lazio), dan Christian Pulisic (Chelsea) mulai masuk radar.
Mereka bahkan coba menghidupkan kembali minat pada Moises Caicedo (Brighton) setelah gelandang Timnas Ekuador itu tampil bagus di Old Trafford. Sebelumnya, pemain berusia 20 tahun ini sempat didekati pada bursa transfer musim dingin 2021, tapi situasi internal klub yang kacau membuat transfer batal terjadi.
Tapi, satu kejutan muncul, seiring mekarnya minat United pada Casemiro. Minat mereka bahkan tampak serius, karena berani menyodorkan tawaran sebesar 60 juta pounds kepada Real Madrid, atau sepuluh kali lipat dari harga belinya dari Sao Paulo FC sedekade lalu.Â
Transfer ini direspon positif kubu Santiago Bernabeu, karena mereka juga belum lama mendapatkan Aurelien Tchouameini dari AS Monaco. Hanya saja, Los Blancos masih tampak berhati-hati, karena di masa lalu mereka pernah mengalami penurunan prestasi cukup drastis, kala menjual Claude Makelele ke Chelsea tahun 2003. Kebetulan, Casemiro punya peran seperti Makelele.
Manuver United kali ini disebut kejutan, karena untuk ukuran level tim saat ini, profil pemain berusia 30 tahun itu sangat mentereng: peraih lima gelar Liga Champions dan salah satu pemain andalan di lini tengah Timnas Brasil.
Seperti diketahui, tim milik keluarga Glazer ini hanya akan berkompetisi di Liga Europa. Jadi, kedatangan pemain sekelas Casemiro akan jadi transfer mewah.
Pertanyaannya, kenapa harus Casemiro?
Jawaban yang bisa diterka dari pertanyaan ini adalah, Erik Ten Hag tampak ingin mencoba menduetkan Casemiro dengan Fred. Kebetulan, kerjasama keduanya di Timnas Brasil cukup baik, dan diandalkan oleh Tite, pelatih yang kebetulan juga menganut sepak bola menyerang.
Meski terdengar agak konyol, karena Fred kerap tampil seadanya di Manchester United, duet ini terbukti menjadi kunci keseimbangan Tim Samba. Casemiro jadi spesialis perebut bola, sementara Fred bertugas mengalirkan bola ke depan.
Duet Fred-Casemiro di Selecao kurang lebih sama seperti duet Claude Makelele dan Ivan Helguera di Real Madrid (awal tahun 2000-an) atau duet N'Golo Kante dan Danny Drinkwater saat Leicester City juara Liga inggris musim 2015/2016.
Dengan filosofi sepak bola Ten Hag yang menekankan penguasaan bola dan proses membangun serangan dari bawah, keberadaan duet lini tengah seperti ini akan meringankan kerja lini belakang, terutama duet bek tengah.
Di MU sendiri, mereka punya bek tengah yang mampu tampil bagus di klub sebelumnya, antara lain karena punya lini tengah yang bisa memfilter serangan lawan. Inilah yang belum ada di Teater Impian, dan tampaknya mulai coba dibangun ulang oleh Ten Hag.
Jika dirunut lagi, sebenarnya rekam jejak itu masih ada. Harry Maguire bersinar di Leicester City karena mereka punya Wilfred Ndidi, Raphael Varane bisa maksimal di Real Madrid karena dicover oleh Casemiro. Personel baru mereka, yakni Lisandro Martinez, sebelumnya bersinar di Ajax, yang punya Edson Alvarez di pos "gelandang pengangkut air".
Jika melihat profil dan rekam jejak duet Fred-Casemiro di Timnas Brasil, upaya United memboyong lulusan akademi Sao Paulo FC ini adalah satu upaya instan. Meski berkebalikan dengan narasi "rebuild" yang selama ini rajin digembar-gemborkan, tekanan besar untuk lebih baik jelas tak bisa dihindari.
Diluar pertimbangan teknis, aroma politis dari upaya transfer Casemiro ke sudut merah Manchester juga terlihat. Dengan makin besarnya tekanan suporter pada keluarga Glazer (selaku pemilik klub) belakangan ini, mereka butuh satu peredam instan, salah satunya lewat transfer pemain sekelas Casemiro.
Jika transfer eks pemain FC Porto ini benar-benar terlaksana, bisa dipastikan posisi keluarga Glazer akan kembali aman. Ada keyakinan yang muncul, karena klub ternyata masih cukup menarik buat pemain bintang.
Tapi, kalau transfer Casemiro ternyata gagal seperti nama-nama sebelumnya, seharusnya para Manchunian bisa mulai menyadari, Â pesona klub mereka di mata pemain bintang kini telah pudar, karena level aktual klub sudah jauh berbeda dengan era Sir Alex Ferguson yang gemilang.
Ada banyak kemunduran dan kekurangan yang harus disadari, supaya tim ini bisa berbenah. Jika tidak, kemunduran yang ada bisa semakin parah, bahkan bukan tidak mungkin tim bisa turun kasta, seperti yang dulu pernah terjadi pada era 1970-an atau setelah Sir Matt Busby pensiun.
Akankah sejarah terulang?
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI