Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Tahun Rumit Manchester United

24 April 2022   11:05 Diperbarui: 25 April 2022   01:45 592
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekspresi kecewa Bruno Fernandes usai gagal mengeksekusi penalti ke gawang Arsenal (AFP/Mike Hewitt via Kompas.com)

Gelaran Liga Inggris musim ini menyajikan banyak cerita dan rasa. Tapi, cerita yang dirasakan Manchester United boleh dibilang tidak mengenakkan, khususnya bagi penggemarnya.

Mengawali musim sebagai runner-up Liga Inggris dan Liga Europa musim lalu, mereka terlihat meyakinkan, karena sukses mendatangkan pemain bintang macam Raphael Varane, Jadon Sancho, dan Cristiano Ronaldo.

Tak heran, sebagian pihak menyebut, MU sebagai satu tim yang akan berbicara banyak musim ini.

Memang, pada akhirnya, rival sekota Manchester City ini bisa berbicara banyak musim ini. Masalahnya, yang banyak berbicara dari tim ini hanya masalah demi masalah.

Ada performa tim yang inkonsisten, konflik di ruang ganti pemain, dan pergantian pelatih di tengah musim. Mirip mobil balap dengan tambahan mesin kelas satu, tapi penuh turbulensi.

Apa boleh buat, semua situasi ini membuat Manchester United FC lebih layak disebut sebagai "Manyun FC", karena performa tim di lapangan hijau ternyata sering membuat suporternya memasang wajah manyun.

Sebenarnya, di tengah situasi runyam ini, mereka masih punya Cristiano Ronaldo yang mampu mencetak lebih dari 20 gol, dan David De Gea, yang kerap membuat penyelamatan gemilang di bawah mistar.

Masalahnya, sistem permainan yang ada tidak berjalan sesuai rencana awal. Lini tengah kering kreasi, sementara lini belakang justru sukses membuat suporter lawan senang, karena hobi membuat blunder.

Soal masalah blunder di lini belakang, kebanyakan Manchunian dan media kompak menyebut nama Harry Maguire sebagai kambing hitam. Maklum, bek tengah termahal dunia itu kerap jadi titik lemah.

Dari posnya, lawan sering mengekspos jantung pertahanan dan mencetak gol. Alhasil, harga 80 juta pounds yang tersemat padanya justru jadi lelucon, seperti halnya performa tim secara umum, yang jauh lebih gacor dalam menghadirkan meme lucu di media sosial, ketimbang mencetak gol di lapangan.

Masalah ini lalu coba diperbaiki pelatih Ralf Rangnick, dengan membangkucadangkan eks pemain Leicester City, saat mereka menghadapi tuan rumah Arsenal, Sabtu (23/4) lalu. Apakah situasinya langsung membaik tanpa sang kapten?

Ternyata tidak juga.

Meski menampilkan duet bek tengah Raphael Varane-Victor Lindelof, dan mampu membuat sejumlah peluang, kualitas penyelesaian akhir Arsenal ternyata masih lebih efektif. Tim asuhan Mikel Arteta mampu mencetak tiga gol, lewat gol cepat Nuno Tavares, penalti Bukayo Saka, dan tendangan geledek Granit Xhaka.

Sementara itu, Cristiano Ronaldo menjadi satu-satunya pemain Manchester United yang mencetak gol ke gawang Arsenal. Peluang lain sempat datang lewat penalti Bruno Fernandes, yang gagal menjadi gol karena bola sepakannya membentur tiang gawang.

Meski permainan kedua tim cukup seimbang secara statistik, skor akhir 3-1 di Emirates Stadium sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. The Red Devils terlihat kacau di London, dan sulit untuk bisa lolos ke Liga Champions musim depan.

Jangankan lolos ke Liga Champions, bisa tampil di Liga Europa saja sudah beruntung sekali.

Jadi, bisa disimpulkan, masalah terbesar tim ini bukan hanya disebabkan oleh performa satu-dua orang, tapi satu tim secara keseluruhan. Buktinya, dengan atau tanpa Maguire, mereka tetap saja kalah, dengan koordinasi lini belakang yang masih amburadul, sekalipun sudah ada Varane di sana.

Parahnya, keputusan manajemen klub mengganti Ole Gunnar Solskjaer dengan Rangnick ternyata kontraproduktif. Di bawah arahan pelatih asal Jerman itu, Setan Merah masih saja inkonsisten. Mereka tampil memble di Liga Inggris, juga tersingkir di Liga Champions, dan Piala FA.

Meski masih punya empat laga sisa, rasanya musim ini akan lebih layak diingat sebagai satu tragedi. Tim yang berbelanja pemain bintang di musim panas, justru kerap jadi bulan-bulanan lawan, mulai dari papan atas sampai papan bawah.

Situasi juga akan semakin sulit, karena setelah menghadapi Arsenal, Chelsea akan menyambangi Old Trafford. Si Biru dipastikan akan jadi lawan berat, karena mereka butuh poin penuh, untuk mengamankan posisi tiga besar.

Jika United gagal menang atas Chelsea, bisa dipastikan tiket lolos ke Liga Champions musim depan akan semakin sulit didapat. Apalagi, jika Arsenal dan Spurs mampu meraih hasil positif.

Dengan ruwetnya situasi Manchester United musim ini, bisa dipastikan, Erik Ten Hag (pelatih baru mereka musim depan) punya segudang PR untuk dikerjakan saat mulai bertugas nanti.

Praktis, daripada mengharapkan MU membuat hasil positif di sisa musim ini, mari kita menebak-nebak, lelucon macam apa yang akan mereka suguhkan setelah ini, sebelum Erik Ten Hag mulai bertugas musim panas nanti.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun