Dramatis. Begitulah gambaran sederhana dari kemenangan 1-0 Liverpool atas tuan rumah Wolverhampton Wanderers, Sabtu (4/12).
Disebut demikian, karena pertandingan yang berlangsung di Stadion Molineux ini berjalan intens sejak awal sampai akhir. Meski lebih diunggulkan, Liverpool dibuat kewalahan dengan permainan ngotot Wolves, yang dimotori si gesit Adama Traore di sisi sayap dan duet penyerang andalan Hwang Hee-chan-Raul Jimenez
Sebenarnya, lini belakang Si Merah yang dikomandoi duet Virgil Van Dijk dan Joel Matip cukup mampu meredam ancaman tim asuhan Bruno Lange. Alisson juga mampu membuat beberapa penyelamatan dan tampil tenang seperti biasa.
Saat giliran menyerang, Trio Mane-Salah-Jota juga mampu membuat sejumlah peluang. Umpan-umpan ajaib Thiago Alcantara pun mampu menciptakan kejutan dari lini tengah.
Masalahnya, lini serang The Kop yang biasanya ganas kali ini seperti membentur benteng pertahanan berlapis. Di lini belakang, Wolves memasang formasi tiga bek tengah dan dua wing-back, yang membuat pertahanan mereka terlihat sangat rapat.
Jika mampu lolos dari lini belakang yang dikomandani oleh kapten tim Connor Coady, masih ada Jose Sa yang tampil oke di bawah mistar. Komposisi inilah, yang musim ini muncul sebagai satu senjata andalan Si Serigala, disamping kecepatan trio Traore-Hwang Hee-chan-Jimenez di lini serang.
Hasilnya, Connor Coady dkk mampu duduk nyaman di posisi sepuluh besar klasemen sementara Liga Inggris, meski hanya mencetak selusin gol dari 14 penampilan. Jumlah ini hanya lebih banyak dari tim juru kunci Norwich City (8 gol dari 14 laga).
Tapi, pertahanan rapat mereka ternyata bukan kaleng-kaleng, karena hanya kebobolan selusin gol dari 14 penampilan. Catatan ini sama dengan Liverpool, dan hanya kalah dari Chelsea dan Manchester City, yang hingga laga ke 14 masing-masing hanya kebobolan 6 dan 8 gol.
Kombinasi inilah, yang membuat Wolverhampton selalu menjadi lawan yang cukup alot di Liga Inggris musim ini. Sekali lawan dibuat buntu, mereka bisa menyerang balik dengan tak terduga.
Kebuntuan ini rupanya disadari oleh Juergen Klopp, dengan menyiapkan taktik kejutan. Pelatih asal Jerman ini dengan berani menarik Jordan Henderson dan menggantinya dengan Divock Origi di menit ke 68.