Salah satu film yang saya nonton dua kali di Bioskop. Film ini menceritakan dan berfokus pada kaluna anak bungsu atau anak bontot. Tapi siapa sangka, point of view Kaluna ternyata sangat dekat di banyak kalangan.
Hampir semua penonton menangis ketika film ini ditayangkan, saya sendiri melihat langsung ketika di Bioskop. Suara tarikan ingusan karena menangis dan suara tepukan dada karena sangat menyakitkan.
Setelah keluar dari teater, biasanya akan ke toilet dan di sana banyak juga saya lihat matanya bengkak termasuk saya sendiri.Â
Home sweet Loan, menyajikan cerita keluarga dan pertemanan. Bagaimana Kaluna yang memiliki ambisi untuk membeli rumah untuk dirinya, di sisi lain dia harus mensampingkan kesenangannya. Kaluna yang hanya sebagai pegawai kantoran harus memilih hemat untuk bisa menabung rumah impiannya.
Sebenarnya saya punya pertanyaan sendiri, apakah dengan membeli rumah sendiri, akan damai jika jauh dari keluarga ? Tapi ternyata keputusan Kaluna ini sangat benar, bagaimana rumah bukan lagi rumah untuknya.
Sebagai anak bungsu, Mungkin Kaluna tidak terima atas keputusan sepihak dari Ibu atau kakak-kakanya. Â Kaluna yang selalu sedia membantu memenuhi kebutuhan rumah seperti beli pulsa listrik dan kerelaan lainnya.
Perasaan-perasaan Kaluna  seperti marah, kesal, cape dan sedih sebagai penonton turut merasakan . Namun, di sisi lain film ini memberikan sisi yang berbeda, seperti Kaluna yang memiliki pertemanan yang cukup baik. Mereka saling mendukung dan saling memberi kebahagiaan.Â
Kaluna yang mungkin kurang tenang di rumah, tetapi di luar ia senang karena ada teman-temannya. Mungkin kita juga demikian, punya teman-teman yang menyenangkan sehingga merasa tidak sendirian.Â
Saya  bahagia atas ending dan kemasan film ini, sederhana namun menyentuh. Soundtrack dalam film ini memberikan efek yang cukup besar bagi saya, lagu-lagu dari idgitaf dan Salma salsabil yang ternyata menambah kesan sedih.
Sedihnya dapat, romancenya dapat dan tidak lebay, lalu endingnya yang hangat. Â Tentunya sebagai keluarga seharusnya saling menerima dan memaafkan.
Hal lain yang menarik bagi saya adalah bagaimana film ini ingin memberitahu bahwa buruknya risiko pinjaman online. Situasi ini menjadi concern kita semua seharusnya, bahwa sekurang-kurangnya dompet kita, jangan sekali-kali mencoba pinjol apabila tidak bisa bertanggung jawab. Gunakan dana seadanya aja dulu, atau minta bantuan keluarga yang lainnya. Meminimalisir risiko buruk kedepannya.Â
Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI