Mereka bilang mualaf adalah pemeluk baru, benar-benar orang yang baru belajar semua hal tentang agamaku, Islam. Tapi perlu kalian tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman lebih taat di banding orang-orang yang memang sudah diwariskan gelar muslimin dan muslimah sejak lahir.
Aku ingin berbagi kisah tentang bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas. Dikelilingi oleh empat agama lainnya pada satu bangsa. Duduk bersama pemeluk kepercayaan yang berbeda. Keyakinan yang berbeda saat berbicara tentang Tuhan, dan ilmu lainnya. Membahas bagaimana masing-masing umat mempertahankan dan mengajak orang lain menjadi pengikut agamanya. Termasuk aku yang sebelumnya tidak berhijab, kekasihku non muslim. Sampai aku dituduh non muslim juga. Bagaimana rasanya? Sedih.
Iya, karena aku belum bisa membawa identitas muslimahku pada khalayak. Karena aku belum berani mengambil risiko kehilangan para sahabatku dari berbagai kalangan agama. Karena aku belum siap mendapat kucilan dari tempat - tempat yang aku singgahi. Pikiran yang aneh bukan? Itu dulu. Sebelum akhirnya aku memahami Surat Al-Kafirun ayat ke enam , yang artinya kurang lebih menjelaskan tenyang agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu.
Salah seorang sahabat non muslim pernah berkata padaku, bahwa ini adalah Indonesia. Bineka tunggal ika, berbeda tetap satu. Ada lima agama yang bernaung didalamnya. Lalu mengapa mesti takut memperlihatkan identitas muslimahku? Dengan berhijab. Aku pernah ditanya oleh salah satu murid ditempat kerjaku. " Miss, what's your religion?" Katanya. " I am muslim" , " Why you don't wearing hijab, like the other?" Pertanyaan polos yang hanya bisa kujawab dengan senyuman hingga pada akhirnya aku dengan ikhlas melindungi rambutku dengan kerudung.
Bertawakal tentang apa yang dikatakan orang. Jujur, pada awalnya aku agak takut akan keputusan ini. Namun melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia, semua pikiran jelek itu aku tepis jauh-jauh. Inilah tentang hidup mati serta surgaku, bukan kalian. Ternyata, semua di luar dugaanku. Mereka bangga akan diriku yang sekarang. Aku bisa mengontrol diriku, menjaga akhlakku, dan melindungi bicaraku. Menjadi diri sendiri dengan ke pribadian terbaikku dan berani memutuskan hidupku lebih tegas, salah satunya berpisah dengan kekasihku itu.
Membahas tentang hijab, banyak dari mereka yang membuatnya menjadi seperti kurungan kepala dan tidak menutup aurat mereka secara wajar. Sahabat lainku berpesan, bahwa jika memang belum siap berhijab sebaiknya jangan dipermainkan. Hijab bagi agama lain seperti mensucikan diri, melindungi anggota tubuh dari segala macam godaan. " Jika kepala sampai kakimu tertutup tapi menunjukkan lekukan tubuhmu, untuk apa? Jaga pula ibadah lainnya, jangan hangus hanya karena model hijab yang masa kini, Yazhu"  katanya.
Benar, hijab bukanlah mainan. Aku akan tetap berusaha menjadi muslimah yang baik. Terima kasih untuk semuanya. Dukungan dan doa yang sangat berarti dan aku seperti seorang mualaf yang kembali belajar. Subhanallah. (yazhume.alfian)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H