Tapi, daripada berkeras menolak perubahan, kenapa tidak mencoba memahaminya? Saya pernah mencoba mendekati anak saya dengan mengikuti minat mereka bermain game, media sosial, atau apa pun yang sedang tren di kalangan mereka. Awalnya terasa aneh, tapi lama-lama hubungan kami menjadi lebih dekat karena saya menunjukkan bahwa saya peduli dengan dunia mereka. Sekarang, bukannya berjarak, kami justru sering bermain game bersama atau berdiskusi soal tren terbaru.
Memang, ini bukan soal kita menjadi seperti mereka, tapi mencoba memahami dan berkomunikasi di dunia yang mereka kenal.
4. Memberikan ruang untuk gagalÂ
Sebagai orang tua, kita seringkali ingin melindungi anak dari segala bentuk kesalahan. "Jangan begini, jangan begitu," mungkin sudah jadi kalimat sehari-hari. Tapi, justru di sinilah kita sering salah. Anak butuh ruang untuk belajar dari kesalahan mereka sendiri. Mereka perlu merasakan gagal untuk bisa tumbuh.
Saya ingat ketika anak saya gagal dalam sesuatu yang menurut saya tidak penting seperti tugas sekolah yang mungkin hanya bernilai kecil. Saya hampir saja langsung turun tangan untuk membantunya, tapi kemudian saya memilih mundur sejenak. Biarkan mereka gagal, biarkan mereka belajar dari kesalahan. Tidak mudah, memang. Naluri orang tua selalu ingin menyelamatkan, tapi memberi ruang untuk gagal adalah cara kita hadir dan mendukung tanpa terlalu mendikte.
5. Jadi contoh, bukan sekedar penasehat
Anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tapi juga memperhatikan apa yang kita lakukan. Mereka belajar dari tindakan kita, bukan hanya dari nasihat-nasihat bijak yang kita lontarkan. Ketika orang tua menuntut anak untuk lebih sabar, tetapi mereka sendiri mudah marah, maka jangan harap anak akan belajar dari apa yang kita katakan.
Menjadi contoh yang baik tidak berarti harus sempurna. Saya sendiri sering merasa tidak selalu bisa menjadi orang tua yang ideal. Tapi, ketika anak melihat kita berusaha untuk memperbaiki diri, itu sudah cukup. Mereka akan mengerti bahwa tidak ada yang sempurna, tapi usaha untuk menjadi lebih baik itu penting.
6. Terbuka dengan emosi sendiri
Orang tua sering berusaha menyembunyikan perasaan mereka dari anak, terutama ketika sedang kesal atau lelah. Alasannya, tentu saja, agar anak tidak khawatir atau merasa terbebani. Tapi, ini justru menciptakan jarak. Anak butuh melihat sisi manusiawi dari orang tua mereka. Tidak ada salahnya menunjukkan bahwa kita juga bisa merasa sedih, marah, atau lelah.
Dalam pengalaman saya, berbagi emosi dengan anak justru mendekatkan hubungan. Bukan berarti kita harus membebani mereka dengan masalah-masalah kita, tapi menunjukkan bahwa kita juga manusia yang bisa merasakan emosi yang sama. Anak akan merasa lebih terhubung ketika mereka tahu bahwa perasaan mereka bukan sesuatu yang asing bagi orang tuanya.
Membangun hubungan yang dekat dengan anak dan memastikan peran kita sebagai orang tua benar-benar hadir bukanlah tugas sekali jadi. Ini adalah proses panjang yang penuh dengan pasang surut. Masalahnya mungkin sama, tapi setiap keluarga punya jalan penyelesaiannya sendiri. Kuncinya adalah kesabaran, keterbukaan, dan kemauan untuk terus belajar dan berkembang bersama. Karena pada akhirnya, bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, tapi menjadi orang tua yang selalu hadir baik secara fisik maupun emosional.