Ketika Ketiga Hati Bertemu
Oleh : Budiyanti
Berkat menulis, persaudaraan bertambah. Seperti yang telah saya alami. Saya pun banyak saudara yang berasal dari berbagai kota. Ada yang dari Solo, Yogyakarta, Malang dan lainnya. Kadang kami saling jumpa jika kebetulan melewati kota tersebut. Inilah keuntungan dari suka menulis.
Hari Sabtu lalu  saya pun bisa bersilaturahmi ke rumah Bu Kanjeng dan Bu Ismi yang sama-sama gemar menulis. Mereka berdua tinggal di Solo. Tiga hati pun betemu. Kok bisa bagaimana ceritanya? Yuk simak ceritaku ya.
Pertemuan itu saya rancang dua minggu lalu bertepatan dengan agenda pertemuan keluarga di Klaten. Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Kebetulan Bu Kanjeng belum ada agenda lainnya.
Pukul 10.00 Â kami memasuki tol Bawen. Menikmati indahnya jalan tol Ambarawa --Solo dengan hati bersuka cita. Jalan mulus dengan pemandangan menawan menjadi daya tarik tersendiri. Tak lupa kami nikmati jajan agar suami tak mengantuk. Lagu pun mengalun merdu. Momen indah bersama suami. Heee
Keluar jalan tol, saya mulai menghubungi Bu Kanjeng. Beliau juga memantau perjalanan kami sesuai petunjuk yang diberikan. Awalnya lancar. Namun, ternyata kebablasan satu gang. Sampailah kami di Unisri. Saya pun menghubungi beliau. Setelah itu kami menunggu di depan gedung meterologi. Kemudian Pak Kanjeng mau jembput karena sudah dekat. Eh Bu Kanjeng menyebut mobil hitam livina. Saya pun lupa memberitahu mobil yang saya pakai. Akhirnya Pak Kanjeng pulang ke rumah. Selanjutnya Pak Kanjeng dan ibu sudah sampai di depan kami.
"Oalah lha mobilnya tidak livina," ucap Bu Kanjeng ketika turun dari boncengan.
"Maaf lupa ngabari. Livinanya sudah dibawa yang punya," ucapku sambil mendekati Bu Kanjeng dan berpelukan.
Kami pun bersama menuju rumah Bu Kanjeng. Ya, ini serunya perjalanan kami. Akhirnya kami sampai di rumah Bu Kanjeng. Rasa bahagia menyelimuti hati kami. Sejenak kami melepas lelah dengan teh hangat dan cemilan yang lezat. Suami pun ngobrol dengan Pak Kanjeng, sementara saya ngobrol dengan Bu Kanjeng. Pertemuan yang indah layaknya saudara. Kami pun menuju kebun Bu Kanjeng dengan aneka tananaman. Walaupun belum ada buah, rasanya sejuk melihat kebun yang penuh harapan.