Melihat baliho yang telah lama terpasang di berbagai daerah, "Muhaimin Iskandar Cawapres 2019" terlihat dengan jelas positioning seorang Cak Imin dan PKB sebagai partai pengusungnya. Baliho yang dipasang merupakan strategi branding yang telah dipilih untuk menjual dan mendekatkan figur Cak Imin ke masyarakat. Maraknya pemasangan baliho diharapkan dapat menarik hati dan simpati dari para pemilih.Â
Perolehan 47 kursi di DPR RI, hasil pemilu tahun 2014 telah menempatkan partai dalam posisi strategis, tanda kutip "tawar-menawar" politik. Posisi strategis untuk menentukan arah calon Presiden dan Wapres tahun 2019, yaitu apakah dua calon atau tiga pasangan calon yang akan berkontestasi, kelak. Beberapa hari sebelumnya, kelompok  Pro-1 telah mendeklarasikan dan memasangkan mantan Panglima TNI Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo dengan Muhaimin Iskandar.Â
Perlu diketahui enam bulan lalu, Pro-1 juga telah mengusung Cak Imin berpasangan dengan AHY dengan alasan bahwa pasangan tersebut memiliki karakter relijius dan terbuka. Terlihat, memang telah berganti pasangan, tetapi wacana dan makna yang tersirat tetap capres dan cawapres alternatif yang akan diusung. Â Hal ini terjadi, kemungkinan karena belum adanya respon positif dari Jokowi atas pendeklarasian relawan Jokowi-Muhaimin (JOIN) di daerah Tebet, Jakarta Selatan beberapa minggu lalu.
Pro-1 sebagai arus bawah Partai Kebangkitan Bangsa dalam melakukan manuver politik tentunya berharap tujuan partai dapat tercapai. Mengutip istilah "dalam politik tidak ada ongkos kendaraan atau makan bersama yang gratis", maka manuver tersebut wajar untuk dilakukan. Organisasi politik dibentuk, tentunya ingin mencapai tujuan mulia yaitu mensejahterakan rakyat. Dalam proses mencapai tujuan mensejahterakan rakyat, salah satu caranya bisa dengan merebut dan mempertahankan kekuasaan. Melihat posisi cawapres sangat strategis dan relevan untuk mencapai tujuan mulia dari partai, tentunya semua calon yang memiliki potensi akan berminat, bukan hanya Cak Imin.
Karir politik Cak Imin hingga saat ini menjabat sebagai ketum partai, tentunya diraih tidaklah dengan mudah dan perlu perjuangan. Muhaimin Iskandar pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alumnus Pasca Sarjana Magister Komunikasi Universitas Indonesia ini, juga telah meniti karier sebagai Wakil Ketua DPR periode 2004 - 2009. Melihat segudang pengalaman yang telah dilalui, wajar saja jika beliau memiliki keinginan sebagai cawapres. Apalagi posisi beliau saat ini, selain sebagai ketua umum partai juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.
Setelah diterimanya mandat dari partai sebagai calon presiden 2019  oleh Prabowo, maka semakin jelaslah arah koalisi parpol dan peta  pencapresan 2019. Prabowo sebagai capres yang akan diusung oleh partai  Gerindra diprediksi akan berkoalisi dengan cawapres yang diusulkan oleh  PKS. Bermodalkan koalisi dua partai yaitu Gerindra dan PKS, terbukti  mampu untuk memenangkan pilkada DKI tahun 2017. Asumsi koalisi Gerindra dan PKS lebih mudah terbentuk karena telah memiliki kesamaan chemistry dan ingin mengulang sukses serta manisnya kemenangan pada pilkada DKI tahun lalu. Kesamaan  sikap dan pandangan ini tidak terbentuk dalam satu atau dua hari  (secara mendadak), tetapi sudah terjalin lama dan semakin mesra sejak  pilkada DKI tahun lalu. Peluang alternatif simulasi masih banyak yaitu mendukung Jokowi/Prabowo sebagai capres tanpa syarat atau membentuk poros ketiga bersama partai Demokrat dan PAN.
Hasil rilis survei LSI beberapa waktu lalu, telah menempatkan elektabilitasnya sebagai cawapres muslim tertinggi dengan angka 14,9 persen, baru kemudian Zulkifli Hasan (PAN) dan disusul oleh TGH M. Zainul Majdi (Demokrat) serta Sohibul Iman (PKS). Meminjam istilah kartu dalam permainan bridge, Cak Imin memiliki "Kartu Truf", bisa ke Jokowi atau Prabowo bahkan membentuk poros ketiga. Seandainya poros ketiga jadi terbentuk, Cak Imin tetap punya kans menjadi cawapres bahkan tidak menutup kemungkinan sebagai capresnya. Tanggal batas akhir pendaftaran capres dan cawapres memang masih panjang, yaitu awal bulan Agustus 2019. Masa empat bulan yang tersisa ini, masih tersedia waktu untuk melakukan pendekatan dan negosiasi dengan para Capres atau partai pendukung poros ketiga.
Politik selain sebagai ilmu, juga adalah seni. Ibarat seorang dirigen atau konduktor dalam kelompok orkestra, Cak Imin sedang memimpin dan mengatur ritme tempo suatu pertunjukan musik. Alunan nada yang sedang dimainkan perlu diatur agar tidak sumbang dan bisa memuaskan semua penonton.Â
Tentunya, publik berharap sebagai seorang pemimpin seni pertunjukan, Cak Imin dapat membawa arah baru perubahan bangsa menuju masyarakat adil, makmur dan Sejahtera. Masyarakat menunggu hasil yang baik atas permainan seni politik tersebut. Kelebihan seorang konduktor dalam memimpin paduan suara, biasanya terletak pada bahasa isyarat yang digunakan, yaitu gerakan tangan dan gerak-gerik wajah. Namun, jangan sampai bahasa isyarat tersebut salah diterjemahkan oleh anggota team orkestra atau oleh penonton, sekalipun. Jika salah diterjemahkan, maka akan membuat pertunjukan menjadi kurang menarik. Publik tentunya mendoakan dan berharap agar Cak Imin sukses serta berhasil meraih cita-cita sebagai cawapres 2019.
Mari sama-sama kita nantikan kartu truf, yang akan dimainkan. Apakah akan berlabuh ke Jokowi atau Prabowo dengan kemungkinan resiko, tertundanya keinginan sebagai cawapres atau berbalik arah menjadi Cawapres/Capres Alternatif pada poros baru?
Salam Demokrasi