"Wonge ra kebak," kata salah seorang teman. "Sing pinter yo ngalah!"
Ya deh, sebagai yang "normal" aku ikut saja. Kadang gayaku yang sok konsisten dan berintegritas memang dianggap sombong oleh orang-orang. Daripada makin dianggap sok hebat kan, ya sudah, aku malah ikut jemput si office boy spesial itu.
Tak cukup dijemput sekali, si bapak malah berulah. Setiap pukul 10 pagi kulihat dia mengendap-endap pulang. Yang akhirnya urusan bersih-bersih harus ditanggung karyawan lain. Atau kalau mau, ya jemput lagi si office boy.
Dengan alasan susah mencari ganti, kami semua diminta bersabar dan lagi-lagi, maklum.
"Bapak itu rada kurang nalarnyo, Tari. Sabar, ya!" kata salah seorang atasan.
Sabar tak sabar, memangnya ada pilihan? Oke kita lanjut jalani hari dengan jemput office boy, nyapu ruangan sendiri (karena dia belum datang), dan pergi fotokopi berkas sendiri. Alih-alih dibuatkan kopi oleh office boy seperti di film-film.
Suatu pagi, akhirnya tensiku naik juga ke ubun-ubun. Sedang aku menyapu ruangan, si office boy datang. Hari itu aku memang tak niat menjemputnya, biarlah sampai bos datang. Biar dia sendiri yang jemput karyawan emasnya itu.
Aku tahu ia di belakangku, dan kupikir akan mengambil alih tugas yang sebenarnya miliknya. Prasangkaku kelewat baik. Alih-alih minta maaf dan mengambil sapu dari tanganku. Dia malah kabur!
Wanjir. Kususul dia ke belakang, sudah tak ada. Kucari-cari keliling kantor tak juga ditemukan. Sepanjang pencarianku, pemandangan yang kudapat adalah teman-teman yang sibuk membersihkan ruangannya sendiri.
"Tadi lewatlah, sekarang entah," kata yang satu.
"Sudahlah, anggap be dak ado," kata yang lain, karena putus asa dengan tingkahnya.