Padahal Jakarta secara umum adalah dataran rendah. Menurut Wikipedia, Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter dpl.
Aku sempat mencicipi hidup di Jakarta. Pernah sekali waktu kaget. Cuaca terik, tapi aku yang hendak masuk ke kanal bus Blok M melihat air membanjiri jalanan. Temanku yang orang Bekasi tertawa melihat keherananku. "Berarti Bogor hujan, Tar. Emang begini biasanya!"
Kejadian itu sekira tahun 2003 atau 2004. Mudah-mudahan sekarang tidak lagi. Tapi ya begitu, banjir kiriman bisa seenaknya meramaikan wilayah orang. Siapa yang bisa menyalahkan air? Wong memang sifatnya begitu, mengalir ke bawah, mencari jalan bahkan celah terkecil untuk dialiri.
Aku juga pernah membaca tentang pembangunan dam oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, tapi entah masih rencana atau sudah dibangun kemudian dihancurkan Jepang. Harus banyak baca lagi! Paling tidak, kita makin yakin sejak dulu Jakarta memang sudah begitu.
Kembali ke saran rumah panggung. Kubayangkan jika rumah adat Jambi dibangun di Jakarta. Barangkali orang-orang di sana bisa menikmati hidup lebih nyaman di segala musim.
Pada musim kemarau, mereka bisa memarkir kendaraan di kolong rumah. Atau menyimpan kayu dan perahu sebagaimana lazimnya penduduk di sebelah utara Sungai Batanghari.
Pada musim penghujan, pindahkan kendaraan darat ke tempat yang lebih tinggi. Berkelilinglah ke rumah tetangga dengan menaiki sampan pribadi. Anggap saja sedang berada di Venesia. Ah, romantisnya!
Nah, mumpung sebentar lagi Jakarta akan jadi mantan ibu kota Indonesia, bagaimana kalau warganya merencanakan pergantian model rumah? Agak melantur memang. Tapi siapa tahu bisa jadi solusi.
Karena meski MUNGKIN Jakarta bukan lagi kota yang dianggap seksi oleh para perantau, atau penduduknya berkurang banyak seperti nasib Sabak di Tanjabtim, tetap saja Jakarta itu posisinya lebih rendah dari sekitarnya.