DILI-Kekesalan Timor Leste terkait penyadapan yang dilakukan Australia terhadapnya berpuncak pada pengadilan internasional. Australia dengan kehebatan intelijennya berhasil melakukan penyadapan dalam negosiasi migas dengan Timor Leste pada 2004 lalu.
Namun, Australia mengelak telah melakukan hal tersebut. Ia mencoba menutupi aksi curangnya itu. Bahkan yang lebih parah lagi adalah Pemerintah Australia berani menggrebek dan menahan pengacara Bernard Collaery yang merupakan bekas agen intelijen Australia sekaligus saksi kunci atas kasus tersebut. Motif penahanan tersebut adalah karena Bernard mengaku memiliki bukti yang tak terbantahkan mengenai aksi penyadapan Australia di Timor Leste saat negosiasi berlangsung.
Hal itu pun membuat gusar Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, hingga ia angkat bicara. "Tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Australia dinilai sangat kontraproduktif dan tidak kooperatif sama sekali," ujar Gusmao, seperti dikutip Guardian, Rabu (4/12/2013).
“Menggrebek kantor pengacara kami dan menahan saksi kunci kami sama sekali tidak bisa diterima. Timor Leste masih negara sahabat Australia dan kami tidak layak diperlakukan seperti itu. Aksi Pemerintah Australia ini benar-benar sangat memperburuk keadaan” lanjutnya.
Sebenarnya masalah ini telah dibawa oleh Timor Leste ke Pengadilan internasional sejak Desember tahun lalu. Dengan munculnya konflik seperti ini, Pemerintah Timor Leste berniat untuk membatalkan perjanjian migas dengan Australia yang telah disepakati pada 2006. Pihak Timor Leste merasa bahwa kesepakatan itu merugikannya. Apalagi Australia telah melakukan negosiasi dengan cara yang kotor. (Jannah)
*Penulis adalah mahasiswa semester 3
Jurusan Pendidikan IPS
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H