Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - pegiat literasi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Buku De Atjehers series

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

207 Hari Menyambung Nyawa Di Belantara

12 Januari 2023   00:24 Diperbarui: 15 Januari 2023   01:25 505
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto-okezone.com

Sebagian besar dari kita memahami kisah kemerdekaan dengan pusat pemerintahannya, hampir pasti hanya Ibukota Jakarta yang paling banyak diingat. Padahal seperti halnya Jakarta, Yogyakarta dan Bukittinggi menyimpan catatan yang sama pentingnya.

Bayangkan saja jika Sjafruddin Prawiranegara gagal menjalankan PDRI, begitu juga dengan tokoh lain d New Delhi, barangkali sejarah kita akan kembali terulang dalam episode perang gerilya, seperti yang dikuatirkan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman.

Namun ternyata sejarah memiliki caranya sendiri memainkan momentum, karena keberadaan para tokoh yang cerdas, meskipun baru memimpin sebuah negara dalam hitungan tahun yang pendek. Proklamasi pada 17 Agustus 1945, dan upaya perebutan kemerdekaan oleh Belanda melalui Agresi ke II pada, 22 Desember 1948. Hanya berselang kurang dari tiga tahun.

Selama 207 hari, Bukittinggi menjadi saksi sejarah luar biasa, bagaimana PDRI dijalankan dalam situasi gerilya, dengan pengorbanan, kegigihan yang pada akhirnya mebuat Belanda harus kembali bernegosiasi, setelah sebelumnya mengkhianati Perjanjian Renville, sebagai alasan penyerangan agresinya.

Perundingan Renville diadakan untuk menyelesaikan perselisihan atas perjanjian Linggarjati pada tahun 1946 yang disebabkan Belanda ingkar untuk mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto. Perjanjian Renville terjadi pada tanggal 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville, yang berlabuh di Jakarta.

Sejarah itu harus dkembalikan kembali dengan tidak hanya dengan menuliskannya kembali, tapi juga upaya mengembalikan ingatan semua generasi agar tak pernah melupakan sejarahnya sendiri.

Mengembalikan Ingatan Sejarah

Mendiskusikan peran besar kota Bukittinggi sebagai salah satu lokus sejarah, mengingatkan saya tentang postioning. Mengapa harus positioning?. Al Ries dan Jack Trout sebagai pakar advertising dan marketing, mencoba menyimpulkan sebuah gagasan.

Positioning secara sederhana dipahami berasal dari cara menguatkan produk agar lebih dikenal. Wujudnya bisa saja barang dagangan, jasa, perusahaan, lembaga dan bahkan seseorang!.

Tunggu dulu, tapi positioning sama sekali bukan soal apa yang harus kita lakukan pada sebuah produk sejarah. Positioning lebih pada apa yang mau kita kerjakan pada pikiran. Jadi sasarannya bisa generasi dahulu atau generasi sekarang, para milenial contohnya.

Jadi memposisikan sebuah produk  sejarah itu artinya memposisikan produk ke dalam benak. Melalui pengakuan sejarah dan mempertahankan berbagai buktinya dan menjaganya.

Berikutnya mencari celah penyebaran informasi yang lebih komunikatif, menggunakan banyak media yang kini populer di era digital sebagai penyambung pesan---media sosial.

Kita juga harus mereposisi berikan sebanyak mungkin pilihan sasaran  yang hendak kita bagikan informasi agar orang semakin banyak yang tahu kisah sejarah yang ingin kta bagikan.

Termasuk para tokoh utamanya, karena dalam sejarah PDRI, tak hanya berkisah tentang Soekarno, Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, Ketua merangkap Perdana Menteri, Menteri Pertahanan dan Menteri Penerangan, TM Hassan sebagai Wakil Ketua merangkap Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Menteri Agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun