Rumah itu kutinggalkan tiga puluh tahun lalu. Gubuk berdinding bambu. Tak bisa menjadi tempat bersandar bahu.Â
Kutinggalkan dengan kenangan. Kupandang dengan tangisan. "Kutinggalkan kamu, biar kamu besar"kataku sambil berlinang.Â
Sejak kutinggalkan, setengah perjalanan. Sudah. Ku berjuang. Mengganti bambu dengan batu. Atap jerami dengan genteng. Biar mentereng.Â
Dan tetangga tak lagi cengengesan. Supaya tahu, sekarang rumah sudah banyak polesan. Cat dan semen murahan.Â
Lima belas tahun ku kumpulkan uang dan juga ingatan. Rumah dibesarkan oleh kemiskinan. Dan rumah adalah pusat ejekan. Dulu. Tiga puluh tahun lalu
Aku tenang-tenang saja. Rumah itu tempat mengolah jiwa. Meragakan semangat. Biar pekat, kubawa minggat dan rumah menitipkan berkat.Â
Kini rumah  lebih terawat. Aku tak suka, bertingkat. Rumahku gagah, segagah anakku yang laki satu-satunya, diantara dua kakak dan adik perempuannya.Â
"Biar tuan besar nanti ingat, rumahmu ini pernah sekarat" Kataku kepada anak lelakiku. Rumahmu sekarat, hampir mati dijerat lintah darat. Dan ayahmu, limbung dan memutuskan minggat.Â
Tanah kelahiran basah. Ayahmu terpanggil. Pulang membawa sekarung tekad. Demi rumah yang membesarkan. Harkat dan martabat.Â
Bukan soal harta. Rumah gubuk untuk apa. Dipertahankan untuk jiwa yang dibesarkan. Ada titipan pesan Simbah yang bersimbah peluh. Memungut ranting demi ranting untuk dinding. Dan helai demi helai daun untuk atap.Â