Seutas setapak pematang jalan itu,
dulunya waktu pernah kusinggahi dengan lapang senyummu,
tidak juga hari ini
setapak pematang itu masihlah teduh,
sisi kanan dan kirinya dipenuhi belukar rumput liar,
juga goresan tulisan namamu msihlah terpatri nisana,
mesti satu satu ejaanya mulai tersamarkan,
namun masihlah cukup jelas untuk di tembangkan.
diujung jalan setapak itu
huma kecil gubug peraduan terlelepnya sebuah rindu,
dimana tirai tirainya mulai tak kuasa bertahan diterpaan sang waktu,
tak seperti waktu itu
lagu rindu selalu memanggilmu tuk singgahi huma itu,
berdendang tembangkan kidung asmaradana pujaan dewa dewi,
tiada gundah tiada ragu jalani pematang hati yang berliku.
namun kini roman rindu hanyalah sendu,
beriring senyummu yang tlah kandas berlalu,
membungbung pudar sirna bersama kisah asmaradana,
tembang kenistaan bagi para pecinta yang terbungkus lara
sampai jumpa.....
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!