Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Wisdom Lover

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merayakan Idul Fitri dengan Sederhana tapi Bermakna

29 Maret 2025   09:07 Diperbarui: 29 Maret 2025   09:07 255
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi suasana Idul Fitri (Sumber: kompas.com)

Setelah selama satu bulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan umat Islam akan tiba di hari raya Idul Fitri. Idul Fitri merupakan momen yang istimewa, yang senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.

Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Semua sanak famili, karib kerabat, dan handai taulan berkumpul saling bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Di hari raya Idul Fitri orang-orang pada umumnya memakai pakaian baru, yakni baju lebaran dengan model dan warna yang beragam. Selain itu biasanya terhidang aneka makanan dan kue yang enak dan lezat dalam jumlah banyak.

Tentu saja makanan yang khas, yang selalu ada di setiap keluarga adalah ketupat lengkap dengan opor ayamnya. Bahkan di Indonesia, ketupat sudah jadi simbol dari hari raya Idul Fitri itu sendiri.

Tradisi memakai pakaian baru dan menghidangkan aneka makanan atau kue yang enak dan lezat di hari raya Idul Fitri merupakan hal yang boleh-boleh saja dilakukan dan tidak dilarang.

Hanya saja hal itu tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Sebab jika dilakukan dengan berlebihan dikhawatirkan akan termasuk kategori mubazir atau pemborosan.

Idul Fitri sesungguhnya bisa dirayakan dengan menghindari perilaku yang konsumtif dan tidak perlu. Idul Fitri bisa dirayakan dengan sederhana tapi bermakna.

Dalam hal menyiapkan hidangan aneka makanan atau kue misalnya, bisa dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah anggota keluarga dan tamu yang akan datang.  Artinya bikin/beli makanan atau kue tidak sebanyak-banyaknya dan berlebihan, tapi secukupnya dan seperlunya saja.

Kalau ada makanan tersisa, jangan biarkan makanan itu jadi basi dan kemudian dibuang ke tempat sampah. Sebelum makanan itu jadi basi, alangkah baiknya jika diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sebut saja misalnya dibagikan kepada tetangga, anak-anak, tukang sampah, tukang parkir, atau yang lainnya.

Dalam hal baju lebaran, membeli baju baru tidak ada salahnya malahan bagus. Akan tetapi jika sampai mengutang sana sini untuk membelinya itu yang tidak diharapkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun