Mohon tunggu...
Wildan Hakim
Wildan Hakim Mohon Tunggu... Dosen - Dosen I Pengamat Komunikasi Politik I Konsultan Komunikasi l Penyuka Kopi

Arek Kediri Jatim. Alumni FISIP Komunikasi UNS Surakarta. Pernah menjadi wartawan di detikcom dan KBR 68H Jakarta. Menyelesaikan S2 Manajemen Komunikasi di Universitas Indonesia. Saat ini mengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Jakarta dan Peneliti Senior di lembaga riset Motion Cipta Matrix.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tentang Shalat

17 Januari 2017   21:34 Diperbarui: 5 Februari 2017   17:00 350
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Lima kali dalam sehari. Waktu dan bilangan rakaatnya juga sudah ditentukan. Itulah shalat.

Shalat itu hukumnya wajib. Tidak ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama. Yang namanya wajib berarti harus ditunaikan. Bakal ada dosa kalau lalai melaksanakan shalat.

Ada banyak dalil yang menjelaskan arti penting dan esensi shalat. Satu di antara yang paling sering dikutip berbunyi; shalat itu adalah tiang agama. Ciri utama yang mudah dikenali bagi seorang muslim ialah melaksanakan shalat.

Kalau seorang muslim atau muslimah tidak shalat, dengan mudah disimpulkan, bangunan agamanya sudah runtuh. Kok bisa? Ya karena tiangnya (baca: shalatnya) tidak tegak.

Jadi, tidak usah heran dan ngambeg, kalau orang tua, guru, saudara dekat, atau sahabat Anda mengingatkan; jangan lupa shalat.

Sederhana saja, shalat itu salah satu indikator keimanan. Meski hanya salah satu, tapi shalat itu sangat menentukan atau strategis. Kalau tidak strategis, tentu shalat tidak akan diatur sedetail itu.

Dilaksanakan lima kali, dengan jumlah rakaat paling sedikit dua dan paling banyak empat. Kalau dalam perjalanan shalat bisa dijamak demi mempermudah musafir. Kalau sedang sakit, shalat bisa ditunaikan sesuai kemampuan gerak tubuh kita. Itu baru shalatnya saja ya.

Nah, sebelum shalat, seseorang diharuskan berwudlu. Tidak sah shalat seseorang tanpa diawali wudlu. Wudlunya pakai air. Urutan dan frekuensi basuhan air ini juga diatur.

Kalau tidak ada air? Boleh kok tayamum. Itu lho berwudlu dengan debu yang dianggap suci.

Detail pengaturan shalat ini mengirim pesan yang begitu kuat bagi umat Islam tentang makna strategis shalat. Pemahaman gampangnya begini; jangan anggap enteng shalat.

Dalam salah satu hadis disebutkan, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, amal yang pertama kali dihisab atau dihitung nanti adalah shalat. Kalau shalat seseorang kadang ditunaikan dan kadang tidak, maka nilai pahalanya tidak akan maksimal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun