Karena para pemuda tahu bahwa ayahnya akan menghadiahkan Alena, Memento seluas 4,5 acres, hal ini justru membuat mereka mundur teratur. Peluang Alena menemukan pria pujaan hatinya semakin kecil.
Tapi semua itu tidak membuat Alena menghentikan mimpi-mimpinya. Ia sering membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan sangat mendetail kepada siapa saja.
Alena tahu baju pengantin macam apa yang akan dikenakannya, apa warna bajunya, berapa jumlah kancingnya, pada bagian mana renda-renda dan bunga-bunganya akan dijahit dibajunya hingga perhiasan yang akan dikenakannya..
Alena yang sudah mengetahui bahwa Memento akan menjadi miliknya saat ia menikah, seringkali menghabiskan waktunya berjalan mengelilingi Memento, merencanakan di mana pernikahannya akan digelar, bahkan membayangkan di sebelah mana rumahnya nanti akan dibangun.
Ibu Alena, Margaret, kerap bercerita kepada orang-orang disekitar, keinginan Alena dalam hidup hanya satu yaitu menikah. Memiliki suami dan keluarga adalah sesuatu yang diimpi-impikannya.
Sayang takdir berbicara lain, Alena terserang wabah penyakit cacar. Era itu, ilmu kesehatan belum dapat menemukan obat penyembuhnya. Alena sadar kalau ia tidak mungkin sembuh.
Meski sakit melanda tubuhnya, di atas tempat tidur Alena tidak menyerah akan mimpinya bertemu dengan pujaan hati, menikah dan memiliki keluarga.
Tanggal 15 April 1877, Alena yang saat itu berumur sembilan belas tahun menghembuskan nafas yang terakhir. Wabah cacar telah merebut mimpinya untuk menjadi pengantin.
Keluarga Alena mengubur jenazahnya di Memento, menjadikannya sebagai orang pertama yang dikubur di sana.
Ayah Alena begitu sangat terpukul, tak seorangpun diijinkan mengunjungi makam Elena kecuali dirinya. Ia mendatangi Elena setiap hari, hingga ajal menjemputnya pada tanggal 18 Agustus 1898.