"Kamu adalah apa yang kamu pakai"
Sudah lama kita mengenal pepatah bijak di atas. Terutama untuk menerangkan bahwa busana atau pakaian yang dikenakan seseorang mencerminkan pemakainya.
Walau ada pula pepatah yang menyarankan agar kita tidak menilai seseorang dari sampulnya, tapi pakaian seseorang seringkali secara akurat menjelaskan karakter, prinsip, atau kepribadian pemakainya. Kita juga sering sengaja memilih pakaian tertentu sebagai pembawa pesan tentang nilai dan pemikiran yang ingin kita sampaikan.
Misal, mengenakan pakaian serba hitam atau gelap ke acara pemakaman menandakan kita sedang merasakan kesedihan. Menggunakan baju penuh warna ke acara reuni mengandung makna bahwa kita sedang bahagia.
Begitu pula orang yang setiap hari suka mengenakan pakaian kasual kemungkinan besar merepresentasikan karakter pemakainya yang santai dan luwes.
Selain itu, pakaian atau busana tertentu juga sering dipilih untuk dikenakan karena pemakainya ingin mendapatkan "kekuatan" sesuai dengan makna yang terkandung dalam jenis pakaian tersebut. Ini biasanya dijumpai pada pakaian-pakaian tradisional, seperti batik.
Setiap motif dan warna batik memiliki arti khusus yang tak jarang memberi pengaruh atau sugesti kepada pemakaianya. Saya termasuk yang mengamininya. Itu sebabnya saya akan selalu memilih menggunakan batik pada situasi atau acara tertentu.
Misalnya saat harus presentasi atau berada dalam sebuah acara yang mengharuskan saya berinteraksi intens dengan orang lain. Entah mengapa dengan batik saya bisa merasa lebih percaya diri. Merasa lebih tegap ketika berjalan dan mantap saat mengungkapkan kata-kata.
Maka dari itu ketika melihat beberapa cuplikan video dan foto dari persidangan Ferdy Sambo yang mulai digelar Senin (17/10/2022), perhatian pertama saya lebih tersedot pada pakaiannya