Kenyataannya memang sudah sedemikian kental dan pekat hubungan antara kopi dengan mahasiswa. Beragam motivasi jadi latar belakangnya. Mulai dari anggapan bahwa kopi merupakan sarana sosialisasi untuk memperluas relasi, perekat pergaulan, serta menunjang gaya hidup.
Ada yang bermula dari sekadar ikut-ikutan teman atau coba-coba, lalu ketagihan. Tak sedikit pula yang memang punya minat khusus untuk menyelami kopi lebih dalam.
Alasan ilmiah juga mendorong mahasiswa untuk berkawan dengan kopi. Sebab beberapa penelitian telah mengungkap manfaat kopi. Sebuah penelitian di luar negeri yang mencoba mengkaji kaitan antara kebiasaan meminum kopi dengan prestasi akademik mahasiswa memberi rekomendasi cara terbaik mengkonsumsi kopi. Antara lain, secangkir kopi di pagi hari cukup untuk memberikan energi dan membantu meningkatkan fokus berpikir. Meminum kopi di pagi hari sebelum menghadapi ujian atau mengerjakan tugas  memberi efek lebih baik daripada belajar lembur semalam dengan meminum beberapa gelas kopi.
Namun, penelitian lain memberi peringatan bagi pelajar dan mahasiswa yang terlalu gemar meminum kopi. Disebutkan bahwa IPK mahasiswa yang meminum lebih dari 2 gelas  kopi setiap hari cenderung lebih rendah dibanding yang hanya meminum satu atau dua gelas kopi saja. Penurunan IPK konsisten mengikuti banyaknya gelas kopi yang diminum setiap hari.
Analisisnya ternyata tidak sukar. Mahasiswa yang terlalu banyak meminum kopi biasanya mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga masalah manajemen waktu.
Belum diketahui apakah ada studi serupa di Indonesia. Namun, agaknya hubungan mahasiswa dengan kopi di Indonesia lebih kompleks. Variabel masalah pendidikan yang lebih beragam dan perilaku masyarakat secara umum menghasilkan lebih banyak sudut pandang untuk menilai hubungan kopi dengan mahasiswa.
Pengaruh banyaknya kopi yang diminum dengan nilai akademik mungkin belum terlalu menarik untuk dipikirkan mahasiswa di Indonesia. Berbeda dengan biaya kuliah yang semakin mahal.
Penting untuk dicermati bahwa biaya kuliah yang dirasakan semakin mahal bukanlah fenomena tunggal di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Ada fenomena lain yang seiring yakni konsumerisme yang menguat di kalangan pelajar dan mahasiswa beberapa tahun belakangan.
Mengamati ramainya kedai kopi di sekitar kampus dan maraknya promo coffee shop yang menyasar mahasiswa, barangkali mahalnya biaya kuliah tak terlalu dipikirkan oleh mahasiswa. Sampai kemudian disadari bahwa terlalu banyak uang yang dibelanjakan untuk kopi.
Tidak sedikit mahasiswa yang jajan kopi setiap hari. Banyak yang menganggap satu cup kopi tidak seberapa harganya. Hanya "pengeluaran kecil" yang tak membebani. Sampai disadari kemudian bahwa pengeluaran-pengeluaran kecil itu telah berbilang ratusan ribu hingga jutaan.