Aku masih belum mampu mencerna, untuk tujuan apa doi tinggal dan bersusah payah di Bogor. Sendirian pula. Apa dia tak berkeinginan merajut masa depan? "Buktinya sampai sekarang aku masih hidup," belanya waktu aku bertanya.
Iya juga sih. Pasti hidupnya bergantung penuh kepada Tuhan, setiap hari bahkan setiap menit dan detik. Doi sudah terbiasa melewati masa krisis dan kesepian. Dalam kondisi itu juga doi tetap setiap dalam hubungan pribadinya dengan Tuhan.
***
Tiga puluh menit dari tempat sarapan, kami tiba di rumah kontrakan doi. Permukaannya lebih rendah dibanding jalan aspal. Rumahnya besar, di tengah kebun yang juga luas. Tak heran doi kesepian di tempat ini.
Bak kampus, di salah satu ruang ada banyak buku bacaan. Wow! Setelah melihat-lihat sekeliling aku segera mandi. Tak perlu waktu lama, aku akan ditemani doi ke Kebun Raya Bogor (KRB). Meski sudah setahun lebih di Bogor, doi juga belum pernah ke sana. Doi tidak suka jalan-jalan katanya.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 10 saat kami tiba di KRB. Cuaca sangat terik. Botol minumku ketinggalan di rumah kontrakan doi, aku tinggal di kantong samping tas. Doi mampir ke swalayan membeli sebotol kecil air mineral tak jauh dari pintu masuk. Siapa sangka, botol itu dipersembahkan untukku. (Doi sudah membawa botol minum.)
Wah... perhatian sekali. Inikah salah satu konfirmasi bagiku? Tak rugi jauh-jauh datang ke Bogor. Tapi aku masih bergumam dalam hati. Lagi pula itu belum cukup sampai aku bicara padanya.
Beberapa titik yang kami kunjungi di KRB yakni halaman belakang istana kepresidenan (terpisah sebuah kolam dihuni teratai raksasa), pohon-pohon purba raksasa, dan masih banyak pepohonan lain. Rasanya tak sanggup kami mengunjungi semua sudut KRB dalam sehari.
Aku yang menginisiasi untuk berfoto bersama (pun berjarak, tak berani dekat-dekat), biar ada kenangannya dong. Entahkah nantinya kenangan manis, atau justru pahit, itu urusan belakangan. Mulanya doi canggung, sehingga doi lebih banyak memfoto diriku.