Demikian pula dalam hal belanja ke pasar. Masyarakat enggan ke pasar karena takut tertular Covid-19. Atau malas berdesak-desakan, karena bisa memicu perkembangan virus semakin meluas.Â
Beberapa orang menangkap peluang untuk menawarkan jasa membelanjakan sesuatu ke pasar, kemudian disampaikan ke konsumen. Hanya mengganti ongkos jalan. Kemudian barang belanjaan diantar sampai ke rumah. Take and give. Saling menguntungkan.Â
Tentu saja mereka saling kenal, karena bertetangga, teman sendiri, atau kenalan yang rumahnya tidak jauh. Terjangkau dalam wilayah sendiri, dan aman.Â
Alurnya adalah, awalnya pembelanja menawarkan barang, misalnya bawang merah, bawang putih, empon-empon, bumbu, cabai, ayam, telur, dan barang kebutuhan pokok lainnya lewat WA. Termasuk juga makanan yang sudah siap saji. Kemudian konsumen diminta untuk memesan, untuk dibelanjakan keesokan harinya.Â
Mereka juga menawarkan sajian siap santap untuk berbuka. Antara lain masakan lauk, sayur, atau takjil.Â
Ketika barang sudah siap, maka akan diantar sampai ke rumah. Kemudian membayar. Selesai. Bisa jadi saat mengantar pesanan, akan terjadi pemesanan kembali, untuk belanjaan esok hari dan seterusnya.Â
Pergeseran perilaku ini memiliki sisi positif dan negatif. Tentu saja karena ini adalah situasi yang baru. Butuh penyesuaian, dari hal yang sebelumnya belum terpikirkan. Pasar berpindah ke WA.Â
Sisi positifnya adalah, karena pembeli tidak harus berdesak-desakan di pasar, sehingga bisa memutuskan mata rantai penularan virus.Â
Sisi negatifnya, pembeli di pasar menjadi berkurang, karena diambil alih oleh penjual dadakan yang menawarkan dagangannya lewat WA.Â
Harga Tetap Sama dengan PasarÂ
Berbelanja lewat WA antarteman ini, mematok harga yang sama dengan pasar. Bahkan untuk barang tertentu bisa lebih murah.