Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis - Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Aku, Pemilik Hati yang Beku #6

27 September 2017   07:51 Diperbarui: 27 September 2017   13:18 921
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: pixabay.com

Sebelumnya:

Ada keraguan dalam hatiku. Aku memiliki masa lalu yang biru.  Sakti belum mengetahuinya. Meskipun aku berusaha untuk melupakan masa lalu, tetapi masa lalu tetap mengikuti. Bagaimana jika ia tahu bahwa aku bukan anak kandung om Tommy? Dan ternyata aku masih memiliki ayah kandung yang tak pernah ia kenal? Berubahkah cintanya? 

***

Beberapa kali aku mengunjungi ayah, setelah akhirnya aku mau menemui ayah secara langsung dan tidak sembunyi-sembunyi.  Sengaja kuluangkan waktu agar mempunyai waktu untuknya. Rasa rindu dan sayang kepada ayah, membuatku ingin menebus waktu yang selama ini hilang dan tidak bisa bersamanya. Tentu saja, ayah sangat bahagia. Meski hanya sebentar kemudian meninggalkannya untuk kembali ke keluarga om Tommy. 

Aku tak bisa begitu saja meninggalkan keluarga om Tommy yang telah merawatku dengan tulus. Hanya saja, aku belum memiliki keberanian untuk berterus terang pada mereka, bahwa aku masih memiliki ayah kandung. Aku tak mau mereka bersedih karena merasa kehilangan diriku. Aku hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk mengungkapkan. Semoga mereka mau menerimanya.

"Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering pulang malam, Runi. Banyak pekerjaan, ya?"  tanya tante Hanny.

"Iya, ma. Lagian skripsi Runi membutuhkan fokus untuk mencari data. Runi pengin cepat lulus," jawabku. Aku memang memanggil tante Hanny dengan sebutan Mama. Aduh, terpaksa aku berbohong padanya dan mencari alasan. Padahal disamping aku memang sibuk skripsi, juga sering berkunjung ke rumah ayah tanpa sepengetahuannya.

"Iya, yang penting jaga kesehatan. Agar kamu nggak sakit." katanya. 

Aku mengangguk. "Maafkan Runi, belum bisa berterus terang. Suatu saat, pasti akan menceritakan semuanya." kataku dalam hati.

***

Seperti biasa, pekerjaan dekorasi cukup menyita waktu. Tidak tahu kenapa, semakin banyak yang menyukai seni dekorasiku. Kata mereka, berbeda dari yang lainnya. Aku memang menyelipkan unsur-unsur alam masuk di dalamnya. Seperti aliran air, suara gemericik air membuat orang rileks. Juga unsur bebatuan, seperti di alam bebas. Mereka suka, akhirnya dari mulut ke mulut, seni dekorasiku banyak yang meminatinya. Hanya masalah waktu yang kadang membuatku merasa kerepotan. Harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah. Apalagi aku ingin cepat lulus. Agar bisa membuat bahagia dan bangga om Tommy dan tante Hanny. Mereka sangat berjasa dalam hidupku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun