Mohon tunggu...
Mawahibur Rahman
Mawahibur Rahman Mohon Tunggu... wiraswasta -

Menata serpihan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sepucuk Surat untuk Para Pemimpin Negeri

1 Juni 2013   08:23 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:42 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Cilegon, 1 Juni 2013

Kepada :

Yth. Para Pemimpin Negeriku

Assalamu'alaikum wr wb.

Semoga dengan datangnya surat ini bapak/ibu dalam keadaan sehat wal 'afiat dan selalu dikaruniai perlindungan Tuhan dalam segala usaha baik anda. Amin

Tulisan ini ditulis setelah beberapa harinya media massa ramai oleh Pro dan Kontra penghargaan kepada Presiden kita tercinta Susilo Bambang Yudhoyono. Jujur sebagai anak bangsa, saya bahagia ketika pimpinan negeri ini mendapat penghargaan dari dunia Internasional. Tetapi sebagai seorang pengikut kelompok minoritas di negeri ini, hati saya sedih melihat keadaan kami. Begitu jomblangnya sepertinya pengargaan itu dengan keadaan kami yang sebenarnya.

Mari kita dinginkan kepala, luruskan hati. Jangan berdebat dulu berkenaan dengan perbedaan paham atau tafsiran akan hukum. Mari kita sejenak melihat denagn hati nurani keadaan yang menimpa kami :

1. Kami hanya ingin shalat, mengaji Al-Quran dan memuji nama Nabi Muhammad saw. di masjid tercinta kami, yang kami bangun dengan keringat kami sendiri, yang kami selalu bersihkan dengan tangan kami. Namun itupun tidak bisa, dilarang malahan. Hanya untuk hal sesederhana ini, kami harus berhadapan dengan Wali Kota, Satpol PP, Kapolres bahkan berhadapan dengan serangan massa nasional.

2. Kami hanya ingin punya tempat untuk berbagi dengan saudara-saudara kami, berbagi cerita rohani. Diatas tanah yang kami beli sendiri, dengan izin yang lengkap. Namun ini pun tidak boleh.

3. Kami hanya ingin mengajak putra-putri kami, sambil berkata kepadanya, sambil menunjukkan tangan, " Nak...lihatlah itu namanya masjid..sering-seringlah kau kesana, shalat dan mengajilah didalamnya..." Itu pun tidak boleh.

4. Kami hanya ingin mengajarkan kepada putra-putri kami, " Nak...Islam itu cinta damai..sesama mereka saling mengasihi..maka cintailah saudara muslimmu, bahkan kepada saudara non-muslim kamu juga" Itupun terkadang ada kelu di lidah kami untuk berkata.

5. Kami hanya ingin mewujudkan cita-cita Undang-Undang Dasar 45 dan Pancasila kami yang telah dirumuskan begitu baikanya oleh para Founding Father negara tercinta ini. Untuk mewujudkan kehidupan yang berasasi..Itupun segala keringat dan segala suara kami seperti hilang ditelan lautan..

Jika hal-hal seperti diatas sudah tidak bisa kami lakukan lagi..lalu ajarilah  kami caranya untuk mengatakan dengan lugas dan tanpa keraguan, "Kami Cinta dan Bangga Indonesia"

Jika hal-hal sesederhana itu tidak bisa lagi kami lakukan...lalu ajarilah kami, kehidupan apalagi yang harus kami lakukan.

Apakah lebih baik bagi kami untuk bersikap keras dan sewenang-wenang, yang dengannya banyak orang bisa hidup dengan begitu nyamannya.

Apakah lebih baik bagi kami untuk tidak usah lagi terlalu memikirkan keyakinan..yang penting bisa makan enak dan tidur nyenyak

Tolong...jawablah kegundahan kami..

Wassalam

Seorang minoritas yang mencintai negerinya

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun