Sejak mulai merebaknya pandemi COVID-19 di Indonesia, kekhawatiran Mei semakin menjadi.
"Mei, kamu jadi pulang atau enggak?",Â
suara Patricia tiba-tiba menggema diujung telepon membuyarkan lamunannya. Mei hanya menjawab pertanyaan sahabatnya itu sekenanya sambil memastikan tidak ada nada ketakutan pada suaranya.Â
Tidak seperti Patricia yang memang saat ini sudah berada di Surabaya; kota asalnya, Mei masih tertahan di Kediri bersama kedua orang teman perantauannya yang lain.
Surat Edaran yang mengumumkan bahwa ASN dihimbau untuk bekerja dirumah baru saja diterima Kepala Sekolahnya siang ini. Mei menghela nafas. Ia berdoa agar Kepala Sekolahnya segera mengumumkan secara resmi himbauan tersebut sehingga Mei bisa segera kembali ke rumahnya di Surabaya.Â
Sebelum segalanya semakin sulit dijangkau, Mei dan kedua orang teman perantauannya berupaya untuk mendapatkan ijin kembali ke kota asal. Tak lama, wajah Mika putri kecilnya muncul dan terlihat sedang menunggunya dibalik jendela rumah.
"Meee.. Alhamdulillah.. Sore ini kita bisa pulang!", Arga bersorak lirih kearahnya diiringi Dina yang memasang wajah cerah.Â
"Yang bener?.. ", sahut Mei tak percaya.
"Iya Mei.. tadi Pak Hadi udah bilang kalo besok mulai WFH".
Kalimat terakhir Dina membawanya menuju rumah kos untuk segera mengemasi barang. Sudah hampir tiga bulan Mei dan kedua temannya yang sesama Guru perantauan tidak pulang karena padatnya jadwal ujian sekolah. Senyum merekah tak tertahankan membias diwajah Mei sambil masih memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
...
Pukul empat sore Mei sudah berada di Terminal Pare, Kediri.Â
Dibalik kaca jendela bus tatapan Mei tertahan pada seorang anak laki-laki yang tengah asik mengunyah bakso. Disampingnya berdiri seorang laki-laki setengah baya sedang memegangi sebuah botol minum berwarna biru bergambar Captain America.Â
Tak lama laki-laki itu menggendong anak laki-laki yang ternyata putranya. Pemandangan itu membuat air mata Mei menetes. Seketika ia teringat Mas Nanda suaminya dan juga Mika.
"Tenang Mee.. ntar lagi kamu ketemu Mikaa..", ucap Dina disebelahnya.
Mei membalasnya dengan senyuman kecil sambil masih menahan tangis yang ia usap dengan kain kerudungnya. Bagaimana bisa, dalam keadaan seperti ini ia akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan buah hatinya. Bagaimana dengan orang-orang diluar sana?
Para perantau yang lebih jauh lokasinya, yang hampir tidak memiliki kesempatan bertemu sanak keluarga. Dengan adanya wabah yang membuat sebagian orang bergidik ngeri, masih harus dibebani dengan ketakutan tak dapat bertemu dengan keluarga lagi. Mei menghembuskan nafas. Bis melaju perlahan meninggalkan keramaian kota tahu tempatnya berbagi ilmu.
...
Pukul lima sore bus sudah sampai di tol Jombang.
Seperti biasa Harapan Jaya melaju kencang seperti mengejar matahari terbenam. Dina terlihat tertidur pulas. Disekelilingnya nampak orang-orang juga demikian. Hanya satu dua orang yang masih bercakap-cakap. Tak jelas arah pembicaraan. Namun semakin lama semakin membuat Mei penasaran.
Tiba-tiba seseorang diantaranya berteriak.Â
Bersamaan dengan itu terjadilah guncangan hebat dari sisi kanan bus
Drakkk!.Â
Penumpang sontak terbangun. Sementara Mei dengan air mata berurai masih menatap pemandangan didepan matanya yang hampir tidak ia percayai akan terjadi. Sebuah truk kontainer mendorong dengan keras bus itu ke arah kiri dan membuat bus terguling.Â
Kaca-kaca bus pecah berhamburan. Tubuh para penumpang terjatuh berhimpit-himpitan sambil masih diiringi teriakan dan takbir dengan sisa-sisa suara yang dipaksakan.
Mei mulai kehilangan pandangannya. Sementara Dina terdengar berteriak kesakitan. Bau amis merebak seketika disekelilingnya. Diantara pandangannya yang kabur ia melihat seorang penumpang ibu-ibu yang tangan dan kakinya terpisah.Â
Dengan perlahan Mei yang tubuhnya tertimbun kursi penumpang dan tubuh-tubuh lain yang berserakan mulai berusaha menggerakan tangannya. Ia merogoh saku jaket tempatnya menaruh ponsel.
Sayup-sayup suara sirine terdengar. Diiringi suara teriakan pengendara lain yang mulai terlihat berusaha menolong seadanya. Mei yang wajahnya dilumuri darah mulai berusaha melepaskan diri. Namun tenagannya tak cukup membantu. Diantara sadar dan tidak, ia mencoba menghubungi suaminya. Tidak ada jawaban.
Mei mencoba lagi dengan satu tangan mengusap-usap layar ponsel yang telah basah oleh darah. Masih tak ada jawaban. Ia menangis tak bersuara. Diantara kesakitan, pasrah dan berdoa, Mei melihat wajah Mika. Tersenyum sambil melambaikan tangan dan berbisik lirih..
Bunda datang..
Sidoarjo, 31 Maret 2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI