Mohon tunggu...
Vitho Anugrah Pratomo
Vitho Anugrah Pratomo Mohon Tunggu... Guru - Guru IPS

Saya adalah guru IPS lulusan S1 Pendidikan Geografi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Saat ini Saya tengah melanjutkan studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Padang. Saya mempunyai hobi dalam mengulik sejarah dan tradisi. Saya berasal dari Pekanbaru Kota Bertuah, Provinsi Riau.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Gerakan Transformasi Ki Hajar Dewantara dalam Perkembangan Pendidikan Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan Republik Indonesia

23 Desember 2023   20:21 Diperbarui: 23 Desember 2023   20:37 3187
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ki Hajar Dewantara-Wikipedia

Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu tokoh hebat dalam urusan pendidikan, pengajaran, dan  kebudayaan di Indonesia pada masanya. Beliau didaulat oleh presiden pertama RI, Ir. Sukarno, kala itu sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP&K) Indonesia pada awal kemerdekaan. Jauh sebelum dinobatkan sebagai arsitek pendidikan nasional secara politis, beliau sudah menjadi aktifis saat zaman kolonial Hindia Belanda. Beliau merupakan tokoh pergerakan nasional yang pada umur 24 tahun diasingkan ke negeri Belanda oleh pemerintah kolonial akibat sikap kritisnya terhadap pemerintah. Beliau diasingkan bersamaan dua tokoh lain yang dikenal dengan istilah Tiga Serangkai.

Pendapat Ki Hajar Dewantara yang termaktub dalam orasi ilmiahnya saat menerima gelar Doktor Honorus Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 7 November 1956 menyebutkan bahwa pendidikan sebelum kemerdekaan, dalam hal ini ialah pada zaman kolonial bahwasanya pendidikan baru terasa ada pada zaman politik etis. Sebelum adanya politik etis atau politik balas budi dari pemerintah kolonial, pendidikan dan pengajaran hanya difokuskan untuk anak-anak bangsa Eropa. Hal tersebut termaktub dalam R.R Tahun 1854 pasal 126 dan 127 yang inti kalimatnya adalah membuka dan memberikan pengajaran kepada anak-anak bangsa Eropa secara bebas dan sedapat-dapatnya harus ada usaha pemerintah kolonial memberikan pendidikan dan pengajaran yang dimulai dari kelas rendah guna mencukupi kebutuhan penduduk Eropa di tanah Hindia.

Europeesche Lagere School-kompas.com
Europeesche Lagere School-kompas.com

Saat bermulakan Politik Etis bergaung di tanah air, maka mulailah secara berangsur-angsur dibukanya sekolah-sekolah untuk kaum bumiputera. Walaupun pada kenyataannya sekolah-sekolah itu dibatasi penggunaannya. Banyak sekolah-sekolah bumiputera yang muncul ke permukaan. Sekolah-sekolah tersebut ada yang berlatar belakang sekolah vokasi dan sekolah reguler non vokasi.

Seperti halnya Lathifah School (kelak menjadi Madrasatunnisa') di Siak yang didirikan oleh Permaisuri Tengku Agung Sultanah Lathifah pada 1927 (Data Cagar Budaya Kabupaten Siak). Kemudian Madrasah Al-Taufiqqiyyah oleh Sultan Syarif Kasim II di Siak pada 1917. Lalu ada INS Kayu Tanam oleh Engku Syafei pada 1926 dan lain sebagainya. Sebagai seorang tokoh aktivis pendidikan, Ki Hajar Dewantara juga mengusung sekolah yang bernama Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922.

Perguruan Taman Siswa Yogyakarta - gudegbagong.com
Perguruan Taman Siswa Yogyakarta - gudegbagong.com

Lahirnya institut perguruan Taman Siswa di Yogyakarta merupakan buah hasil dari Gerakan radikal dalam upaya perwujudan pendidikan dan pengajaran di tanah Indonesia.

Cita-cita merdeka dalam belajar tersebut merupakan kesadaran kultural dan politik. Maka pendidikan dan pengajaran itu haruslah bersifat sebagai bentuk pemeliharaan tumbuhnya benih-benih kebudayaan.

Gerakan pendidikan sejalan dengan gerakan politik menuju Indonesia yang merdeka dimana hal tersebut juga sangat dibutuhkan oleh peserta didik agar menjadi manusia yang merdeka pula. Selepas kemerdekaan Indonesia, pendidikan menjadi sangat berguna dan menjadi hal vital dalam Masyarakat. Zaman kemerdekaan ini guru sebagai pendidik harus mampu menuntun peserta didik dalam mengembangkan bakat sesuai kodratnya. Mendidik hendaklah menyentuh keterampilan berfikir dan mengembangkan kecerdasan bathin.

Pendidikan intelektual murid hendaklah dibangun setinggi-tingginya dan seluas-luasnya guna mewujudkan peri kehidupan lahir bathin dengan sebaik-baiknya. Buah dari tuntunan adalah akal budi yang mendorong terciptanya sebuah kebudayaan  yang sehat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun