Mohon tunggu...
Vicky ardiansyah
Vicky ardiansyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Otomotif

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Inovasi Mesin Pemarut Tingkatkan Efisinsi Produksi Jamu Tradisional di Desa Bakalan

18 Januari 2025   22:45 Diperbarui: 18 Januari 2025   22:40 19
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sub Kelompok 3 (Randy, Allafah, Vicky, Aisyah, Rofidah) KKN Untag Surabaya 2025 Desa Bakalan Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto

Mojokerto, sebagai salah satu daerah yang kaya akan tradisi, memiliki banyak potensi lokal yang perlu dioptimalkan, salah satunya adalah produksi jamu tradisional. Di Desa Bakalan, Kecamatan Gondang, terdapat pelaku UMKM yaitu Pak Saidi yang telah bertahun-tahun melestarikan tradisi jamu dengan memproduksi berbagai varian dalam dua jenis kemasan yaitu botol 1,5 liter dan botol PET 350 ml. Namun, Pak Saidi menghadapi kendala dalam efisiensi produksi akibat metode manual yang memakan waktu dan tenaga.

Saya Vicky Ardiansyah sebagai mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN), melihat peluang untuk membantu menyelesaikan masalah ini melalui inovasi mesin pemarut. Kami membuat mesin ini khusus untuk mempercepat proses pengolahan bahan utama jamu, seperti kunyit, jahe, dan temulawak, yang selama ini menjadi pekerjaan paling memakan waktu.

Mesin Pemarut Bahan Baku Jamu
Mesin Pemarut Bahan Baku Jamu

Dengan adanya mesin pemarut ini, waktu pemarutan bahan yang sebelumnya memerlukan waktu 1 jam per kilo dan sekarang dapat diselesaikan hanya 5 menit per kilo. Selain itu, hasil pemarutan menjadi lebih konsisten dan higienis, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk. Inovasi ini tidak hanya membantu Pak Saidi memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan pemasaran jamunya.

Lebih dari sekadar efisiensi, inovasi ini juga sangat penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis jamu tradisional, yang merupakan warisan budaya Indonesia. Dengan efisiensi yang lebih baik, Pak Saidi sebagai UMKM dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri minuman kesehatan moderen.

Karena kemajuan ekonomi lokal adalah fondasi utama untuk Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing, kontribusi kecil ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus mendukung dan memberdayakan UMKM di berbagai daerah.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun