Begitu pula bagi pelajar yang teribat tawuran harus ada hukuman yang memberikan efek jera dan menjadi contoh bagi pelajar lain. Bukankan ada Undang-undang yang melarang membawa senjata tajam. Pelajar yang membawa senjata tajam harus dikenakan sanksi pidana.
Hukuman sebatas memanggil orangtua lalu membuat surat pernyataan bermaterai sudah tidak akan mempan lagi. Terbukti tawuran pelajar tidak pernah berhenti bahkan semakin marak.Â
Pihak orangtua pelajar yang terlibat tawuran juga harus dikenakan sanksi. Bagaimanapun juga orangtua ikut andil dengan memberikan fasilitas kendaraan dan ketidakpedulian  terhadap pergaulan anak-anaknya.
Tewasnya F sungguh  meninggalkan duka yang mendalam tidak hanya bagi keluarga tetapi bagi dunia pendidikan.  Dunia pendidikan kita tidak hanya kehilangan pelajar yang menjadi korban tetapi pelajar yang menjadi pelaku.
Apakah tawuran pelajar bisa diredam? Tentu saja bisa. Tawuran pelajar di Medan sepertinya bukan tawuran pelajar antar sekolah bebuyutan. Â Tetapi lebih mengarah pada perseteruan gank motor dalam sekolah dengan gank motor sekolah lain.
Gank-gank motor harus diberantas secara persuasif maupun tegas. Patroli polisi yang dulu sering hadir dengan motor trailnya harus digalakan kembali. Jangan hanya menjelang pemilu saja. Kalau perlu diadakan razia khusus pelajar dan gank motor.
Menurut kabar mulai Senin ini pihak Polsek Medan Helvetia turun ke sekolah-sekolah memberikan penyuluhan. Walau kesannya menunggu jatuh korban dulu tetapi patur diapresiasi.
Pemerintah daerah, Kepolisian, dan Dinas Pendidikan harus segera menemukan formula yang tepat untuk menghentikan aksi tawuran antar pelajar. Sudah cukup korban berjatuhan. Masyarakat umum pembayar pajak juga butuh rasa aman.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H