"Mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah, kau mampir hari ini? Bila tidak mirip kau, jadilah bunga matahari..."
Nama Salmantyo Ashrizky Priadi, yang kerap disapa Sal Priadi, tengah menjadi sorotan di dunia musik Indonesia akhir-akhir ini. Pelantun lagu Gala Bunga Matahari ini berhasil menarik perhatian publik melalui karya-karyanya yang khas, terutama karena keunikan liriknya --- yang bahkan oleh dirinya sendiri disebut "aneh" --- namun sarat akan makna mendalam. Persona panggungnya yang lucu dan unik, ditambah dengan kemampuannya membuat penonton merasa terlibat di setiap pertunjukkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya. Perjalanan Sal Priadi menuju kesuksesan penuh dengan lika-liku kehidupan yang menarik untuk diulas. Kisah perjalanan karirnya menunjukkan bahwa di balik setiap karya, ada cerita menarik yang layak untuk dijelajahi.
Lahir dari keluarga musisi mendorong minat Sal Priadi untuk berkecimpung dalam dunia musik. Sang kakek, Priyo Sigit, merupakan seorang musisi yang cukup tersohor di Surabaya, sementara sang ibu berkarir sebagai seorang DJ. Ketertarikannya pada dunia musik semakin berkembang di bangku SMP, ketika ia memiliki sebuah band yang sering memainkan lagu-lagu bergenre emo. Meskipun posisi utamanya adalah sebagai gitaris, Sal kerap dipercaya oleh rekan-rekannya untuk menulis lagu dan mengaransemen musik. Kebiasaan menulis mengasah kemampuannya dalam menciptakan lirik-lirik puitis yang menjadi ciri khas karyanya.
Salah satu kisah menarik dari band SMP-nya diceritakan Sal melalui kanal Agak Laen Official di YouTube. Band tersebut pernah ditunjuk menjadi band pembuka penampilan Raisa dalam sebuah acara sekolah. Mereka berencana membawakan tiga lagu cover dan satu lagu ciptaan sendiri. Namun, selama latihan, lagu ciptaan mereka belum memiliki lirik hingga hari penampilan tiba. Dengan spontanitasnya, Sal mengarang lirik langsung di atas panggung selama pertunjukan berlangsung. Pertunjukkan berjalan dengan lancar dan semua penonton menikmati penampilan spontan Sal bersama bandnya.
Meskipun kemampuan bermusiknya sangat menjanjikan, musisi kelahiran Malang ini awalnya tidak berniat menjadikan musik sebagai pekerjaan tetap. Sal Priadi memulai karirnya sebagai digital marketing di suatu toko furniture. Di waktu senggangnya, ia sering main ke studio rekaman, yang nantinya menjadi tempat rekaman lagu pertamanya, yaitu Kultusan. Lagu 'Ikat Aku di Tulang Belikatmu' berhasil membawa nama Sal Priadi ke nominasi AMI Awards 2019. Meskipun belum meraih kemenangan, penghargaan itu menjadi titik balik Sal Priadi, mendorongnya untuk fokus berkarya dan membuka jalan bagi perjalanan musiknya, termasuk langkahnya pindah ke Jakarta untuk mengejar impian di industri musik Indonesia.
Sejak awal, Sal Priadi tidak pernah berekspektasi karyanya akan memiliki banyak pendengar. Lagu Kultusan, misalnya, berangkat dari kebiasaannya mencari progresi chord yang terdengar enak tanpa mengetahui nama-nama chord yang dimainkan. Begitu juga dengan penulisan lirik yang ia anggap aneh; Sal hanya mengandalkan  kepekaannya dalam menyusun lirik yang terdengar enak di telinga. Dalam proses penciptaan lagu, Sal mengungkapkan bahwa ia menulis lagu per batch, sesuai dengan masanya. Sebagai contoh, penulisan lagu kultusan bersamaan dengan lagu Ikat Aku di Tulang Belikatmu dan lagu-lagu lain dalam satu periode penulisan. Ia menyebut proses ini sebagai capsule collection. Alasan itulah yang membuat Sal Priadi tidak pernah khawatir kehabisan materi lagu setelah merilis karya.
Sal Priadi baru saja menyelesaikan tour album keduanya yang dilaksanakan di enam kota pada 28 Agustus hingga 29 September 2024 lalu. Uniknya, tur album bertajuk ZuzuZaza ini tidak hanya menampilkan Sal Priadi sebagai penampil, tetapi juga menyuguhkan workshop musik dan tari. Workshop tersebut dipandu langsung oleh backing vokal Sal, dan para peserta bahkan mendapat kesempatan untuk tampil di atas panggung atas panggung dalam show bertajuk 'Duh Gusti Ada Orkes', yang merupakan bagian dari rangkaian tour album ZuzuZaza. Ide ini lahir dari pemikiran Sal Priadi yang menganggap tur sebagai ajang untuk mengenal komunitas di setiap kota yang ia kunjungi. Selain itu, ia juga memiliki prinsip bahwa musik bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana ia dapat memberikan manfaat dan menginspirasi banyak orang melalui karyanya. Melalui workshop ini, Sal Priadi berharap dapat membuat pendengar merasa terlibat dan mendapat pengalaman yang berkesan.
Penulis: Valeria Rini Pamuji - Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H