Mohon tunggu...
Ummu el Hakim
Ummu el Hakim Mohon Tunggu... Wiraswasta - Hanya seorang emak biasa

Penyuka alam dan rangkaian kata

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Lansia serta Perjuangan Menggapai Bilik Suara

23 April 2019   16:49 Diperbarui: 23 April 2019   17:08 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : mediaindonesia.com

Pemilu memang sudah hampir satu pekan berlalu. Namun hasil akhir belumlah ditentu. Hanya harap yang kian menunggu. Siapa yang menjadi pemegang tonggak perjuangan selanjutnya? Masih menjadi sebuah tanda tanya.

Kiranya semua orang tau. Tentang bagaimana kita menggunakan hak pilih. Serta apa yang menjadi alasan kita memilih. Mana yang kita anggap sesuai dengan hati nurani. Maka itulah yang menjadi faktor penentu. Pada siapa kita menjatuhkan sebuah pilihan? Rupanya telah menjadi bagian dari sebuah perputaran roda waktu.

Aku hanya sebagian kecil dari rakyat jelata. Yang telah menggunakan hakku sebagai seorang warga negara. Saat itu, serempak bersama berjuta rakyat negeri tercinta. Berbondong menuju titik bilik suara. Sebuah fenomena yang jarang kita jumpa. Tentu tak kan disia begitu saja.

Pagi itu, kedua anakku yang kecil masih tertidur. Namun yang paling besar sepertinya sudah tak sabar.

"Ayo Bu," ajaknya.

"Kamu kok semangat banget ya Mas," kataku kemudian.

"Iya dong Bu kan ini saatnya pesta,"  jawabnya berbunga bunga.

Pesta? Ya pesta demokrasi, tentu saja. Pesta rakyat ini sungguh sebuah momen yang begitu dinanti datangnya. Dimana seluruh rakyat Indonesia dari kota hingga pelosok desa bersama ke titik dimana terdapat bilik tempat mencurahkan segenap perasaan cinta tanah air dan bangsa. Tentu sembari tersemat harapan agar Indonesia lebih baik untuk tahap berikutnya.

Hal ini kiranya tak hanya dirasa oleh usia muda seperti kita. Namun anak anak pun tak kalah semangatnya. Lalu bagaimana dengan lansia? Ah iya betul juga. Di daerahku cukup banyak terdapat lansia. Bahkan hampir 30% di tiap pedukuhan pasti ada lansia. Pun dengan berbagai latar belakang yang tentu saja berbeda. Ada yang masih terlihat sehat, ada pula yang harus dibantu alat atau bahkan ditemani kerabat dekat.

Beberapa hari sebelum hari H aku sempat mendapat kabar bahwa kartu suara ada yang tak bergambar, dan hanya berupa sederet tulisan saja. Pikiranku langsung tertuju pada wajah wajah lansia yang kerap hadir di depan mata. Tentu mereka mendapat perlakuan yang berbeda.

Betul juga. Ketika kaki kulangkahkan menuju lokasi bilik suara. Beberapa petugas keamanan tengah bersiap sedia. Kulihat sejumlah lansia telah hadir dan menunggu dengan wajah begitu sabar. Meski hati mungkin berdebar. Namun ketika nomor antri yang telah diterima, mereka pun maju satu demi satu menuju bilik suara.

Rona yang begitu sumringah. Senyum tak berbalut resah. Namun bagaimana mencapai bilik suara dengan beberapa anak tangga di depan mata? Aha rupanya mereka telah menyiapkan mental sebelumnya. Hal ini begitu menarik perhatianku saat itu.

TPS 11. Tempat kami menapak jejak pada sebuah bilik suara. Tepatnya di sebuah pedesaan di pedukuhan Banglen, Widodomartani, Ngemplak, Sleman. TPS ini berada pada sebuah balai warga. Tempatnya memang agak tinggi. Terdapat beberapa anak tangga yang menyelingi. Untuk para lansia haruslah didampingi. Agar tak terjadi hal yang tak diingini.

Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : Dokumen Pribadi
Wilayah yang kami tempati ini memang begitu beragam. Tak hanya usia muda, pun juga lansia yang masih terlihat bugar juga semangat, tentu saja. Berbondong menggapai lokasi yang bertempat di dalam sebuah perumahan. Yang dihuni oleh berbagai kalangan.

Namun para lansia ini memang lebih banyak tinggal di pedukuhan yang berseberangan. Sehingga untuk mencapai bilik suara tentu harus dengan pendampingan. Ada yang berjalan ditemani keluarga. Ada pula yang diantar menggunakan kendaraan roda dua, pastinya agar mereka tak merasa kelelahan.

Aku yang sedari tadi mengamati langkah mereka. Para lansia yang dipanggil satu persatu ke bilik suara. Begitu bahagia walau mungkin lelah sudah pasti meraja. Sebab perjalanan panjang menggapai bilik suara tak hanya sebatas kaki melangkah. Namun butuh waktu tempuh yang lumayan jauh. Rupanya petugas telah bersiap sebelumnya. Untuk mendampingi agar tak mengalami kesulitan yang berarti. Ada juga kerabat yang menemani. Mungkin sudah menjadi sebuah tradisi. Ketika pemilu hadir dan menyapa mereka pun sudah terbiasa.

TPS kami memang sedikit berbeda. Tempat bilik berada terlampau tinggi untuk dijangkau para lansia. Yang tentu memiliki keterbatasan raga dalam menaiki anak tangga. Mereka harus perlahan, atau bahkan ada yang harus dibantu berjalan. Sebab dikhawatirkan terjadi hal yang tak diinginkan.

Sumber : Dokumen Pribadi
Sumber : Dokumen Pribadi
Sempat hati ini deg degan. Ketika salah satu lansia yang sudah teramat lanjut usia. Menaiki anak tangga dengan menggunakan tongkat. Terlihat berat. Gemetar namun tetap semangat. Masya Allah.

Pemilu kali ini memang terasa begitu marak. Antusiasme warga demikian hebat. Pun lansia tak menjadi penghambat. Mereka tetap berusaha mendatangi bilik suara dengan penuh semangat kuat. Meski harus menempuh perjuangan yang demikian jauh dan penat. Namun tetap dilakukan dengan harap tersemat. Menaiki beberapa anak tangga meski harus tertatih namun tetap dilaju dengan sigap. Seolah tak menjadikan sebuah beban. Perjalanan pun tetap mereka lanjutkan.

Kepedulian terhadap kemajuan bangsa ini begitu terlihat. Terbukti beberapa lansia yang tetap semangat dalam menggapai bilik suara. Walau terik menyengat, jarak tempuh yang mengurai peluh, serta dengan keterbatasan raga. Namun demi negara tercinta, seolah tak menjadi penghalang jalan. Datang untuk sebuah hak pilih pun mereka lakukan.

Tentang siapa yang mereka pilih, itu tak menjadi sebuah hal yang patut dipersoalkan. Tak pula menjadikan pudar semangat yang kian disulutkan. Yang terpenting saat itu bagi mereka adalah aspirasi yang dapat tersampaikan dengan bijak, sesuai hati nurani masing masing pihak.

Dan tentu saja semangat para lansia dalam menggapai bilik suara kiranya merupakan hal yang cukup luar biasa. Mengundang daya tarik tersendiri pada sebuah pesta demokrasi. Siapa pun yang akan terpilih berikutnya semoga bisa senantiasa amanah dalam mengemban tugas negara. Termasuk bagaimana memperlakukan lansia, para pejuang pemilu Indonesia.

Niek~
Jogjakarta, 23 April 2019

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun