Salah satu mahasiswa PBI Umsida yang mencoba membuat batik topeng yaitu Saffana Salsabila. Di sini ia tak hanya presentasi menjadi tour guide saja yang menjelaskan desa wisata, tapi juga mencoba membuat batik topeng.
"Topengnya dari kayu khas daerah ini yang bebas dikreasikan oleh pengunjung, jadi kita hanya mengikuti pola dasarnya saja, baru berkreasi," ujar Bila, panggilannya.
Dari berlatih membuat batik topeng ini, imbuhnya, mahasiswa PBI Umsida tak hanya sekedar belajar tentang materi yang telah mereka dapatkan di kelas saja, tapi juga berkesempatan untuk mempelajari budaya.Â
Bila mengatakan, "Ini cukup challenging buat kami karena memang tidak terbiasa membatik. Tapi kami sangat senang bisa belajar tentang potensi desa ini yang terus dikembangkan,".
Bila yang bertugas sebagai tour leader hari ketiga di Yogyakarta, merasakan banyak kegiatan yang bervariasi dari hari pertama hingga terakhir.Â
"Kegiatan pembelajaran seperti ini tak hanya untuk memenuhi tugas kami saja, tapi momen untuk mempelajari budaya tradisional yang ternyata di sini sangat banyak," katanya.
Lihat juga: Raih Hibah BIMA Kemdikbudristek, Dosen Umsida Ingin Jadikan Sidoarjo Kota Budaya
Selain itu, imbuhnya, kegiatan ini juga bisa meningkatkan kemampuan public speaking, rasa percaya diri, dan keberanian karena mahasiswa harus menjalin koordinasi dengan banyak pihak seperti Suroso dalam menjalankan kegiatan ini.
Setelah belajar budaya di Desa Wisata Bobung, mahasiswa melanjutkan perjalanan terakhir praktikum sebagai tour guide dan tour leader di pantai Drini, sebuah pantai yang ada di pesisir selatan pulau Jawa.
Setelah itu, mereka langsung bertolak ke Sidoarjo.
Penulis: Romadhona S.