Mohon tunggu...
umiaselan
umiaselan Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswa FPIK, Prodi Ilmu Kelautan Universitas Pattimura.

Sedang menggambar hati untuk menyiapkan hati pada Sang Pencipta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pria Bertopi Hitam II

21 September 2019   03:51 Diperbarui: 21 September 2019   03:57 12
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pagi itu awan begitu cerah, mungkin awan tahu apa yang sedang saya rasakan hingga ia pun ikut ceria. Seketika saya sampai di kampus dan berjalan masuk loby fakultas saya berjalan melewati dia yang sedang duduk. 

Dengan menggunakan topi hitam dan menundukkan kepala sambil mainkan hand phone. Yah dengan ciri khasnya, dia selalu menarik perhatianku agar tetap memandanginya walaupun saya sudah berjalan jauh. Pria dengan penampilan sederhana dan pribadi yang luar biasa membuat saya terkagum melihatnya. Apakah ini tandanya cinta? Oh tidak, saya tidak percaya akan hal itu. 

Mungkin ini hanya rasa suka? Namun bukan suka pada dirinya, pribadinyalah yang membuat saya kagum. Hari itu nampak sekali keseharian saya selalu bertemu dengan dia, baik itu berjalan melawatinya ataupun dari kejauhan bisa menatap namun saya berpaling arah. Hati saya pun bertanya-tanya, mengapa saya selalu bertemu dia secara tidak sengaja? Mungkin fakultas yang begitu kecil hingga memungkin setiap kali bertemu dia.

Saya pun berjalan ke arah pantai yang tidak jauh dari fakultas perikanan dan ilmu kelautan, jaraknya kurang lebih 100 meter. Ketika saya sampai di pantai, saya berdiri sambil menatap laut dan bertanya pada arus yang ada di sebelah kiri saya. Arus katakan padaku mengapa saya tidak bisa berhenti menatapinya? Arus pun menjawab "Tanyakan hal demikin pada gelombang, mungkin dia tahu karena dia mempunyai jawaban atas semua pertanyaanmu".

Saya pun menoleh ke arah kanan saya dan bertanya pada gelombang, apakah kau tahu apa yang sedang terjadi dengan diri saya? Gelombang pun balik bertanya pada saya " Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu? Apakah kau merasa resah dengan apa yang sedang tau alami? Tapi maaf, saya tidak mempunyai jawaban yang cukup atas pertanyaanmu itu, cobalah kau tanyakan hal demikian pada terumbu karang! 

Dia pasti mempunyai jawaban yang besar atas pertanyaa dan perasaan yang saat ini kau alami karena dia sama seperti hatimu yang keras menahan gelombang walaupun di terpa ombak berkali-kali". Baiklah saya akan bertanya pada terumbu karang.

Saya pun bertanya pada terumbu karang. Hai terumbu karang, apakah kau tau perasaan apa yang sedang mengganjal di hati saya? "Memangnya perasaan itu sangat menggangu dirimu? Mungkin kau terlalu mengagumi pri itu. Maafkan saya yang tidak punya jawaban atas semua kerasahammu. Cobalah kau tanya pada sang pencipta hatimu. 

Pergilah! Kau pasti akan mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai hatimu". Saya pun berajak dari pantai dengan perasaan sedikit kecewa karena belum juga menemukan jawaban.

Sampai akhirnya malam pun tiba, diantara keheningan malam, saya pun bertanya pada hati dalam doa yang begitu khusyuk. "Apa yang sedang saya alami? Mengapa pria itu tak kunjung pergi dari benak saya? Tolong jawab aku! Tolong berikan saya jawaban atas semua keresahan hati yang kian melanda ini. "Kamu mengagumi. Yah kamu mengagumi pribadi dari pria yang kau sebut mario itu. Pria dengan penampilan sederhana yang menutupi wajah di balik topi hitam".

Saya pun sadar, saya menyukai pria tersebut bukan karena hal yang mutlak seseorang yang menyukai lawan jenisnya, namun saya menyukai pria karena pribadi yang sangat luar biasa.

#mata_omo

Poka, 1 Desember 2018

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun