Sebelumnya, Cinta Beda Agama Bag. 1, Cinta Beda Agama Bag. 2, Cinta Beda Agama Bag. 3, Cinta Beda Agama Bag. 4
Tuhan kita satu...
*****************
Cincin hemat
Harum bunga dipagi hari, kicauan burung diatas pohon dan titik air di pori-pori dedauan membuat Laura terasa segar kembali. Dibukanya selimut yang menutupi wajahnya. Biasanya begitu dia terbangun dia langsung melihat lukisan Tuhan Yesus tergantung di dindingnya. Senyumpun menghiasi wajahnya. Dilipatnya kedua tangannya dan dia mulai berdoa.
"Tuhan... Apapun yang aku lakukan itu semua tertuju hanya pada-Mu.. Aku mau Engkau memberkati aku dan mengiringi tiap langkahku. Aku mau aku bisa belajar mencintai dia Tuhan. Aku tau pilihanku ini sangat cepat, tapi aku yakin itulah jalan yang telah Engkau beri kepada Aku. Tuhan......" Tiba-tiba Laura berhenti dia seperti ingin menangis. "Maaf kalau selama ini aku sering marah-marah kepadaMu. Hanya karena aku tidak suka akan perbedaan yang Engkau ciptakan. Tapi kini Engkau tlah menunjukkan padaku indahnya perbedaan itu. Aku mau ini selamanya Tuhan. Aku mau Engkau membuat aku cinta padanya.... Sahlan... Sahlan si lelaki muslim... Aku mau ini abadi dan tidak menyakitkan.. Dalam nama Yesus Kristus aku berdoa.... Amien..."
Laura membuka mata dan kembali tersenyum kearah Lukisan Yesus itu. Dia kemudian beranjak dari atas tempat tidur dan membuka jendela. Dihirupnya udara pagi yang begitu menyejukkan. " Segar" Katanya bahagia. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya keluar jendela dan berteriak.
"Selamat pagi dunia!!! Aku bahagia loch!!! Hahaha" Katanya sambil melompat-lompat.
Sementara itu di kamar Sahlan yang luas dan mewah. Terlihat Sahlan sedang bersujud diatas sebuah sajadah yang indah dan dia mengangkat kedua tangannya dan berdoa pada Tuhannya.
"Ya Allah.. Terimakasih hamba ucapkan padaMu. Karena Engkau akhirnya memberi aku kesempatan untuk mencintai Laura si perempuan nasrani. Aku harap aku bisa bertanggung jawab atas semua pilihanku ini Ya Allah. Jangan Kau biarkan hamba terlihat seperti pecundang didepan mata gadis yang sangat hamba cintai. Ya Allah hamba mohon ampun bila ini memang salah tapi biarkanlah hamba untuk mencoba menjalaninya walau itu hanya sesaat hamba sudah sangat senang. Amin Ya Robbalalamin..." Sahlan terlihat mengusap telapak tangannya ke wajahnya.
Kira-kira satu jam kemudian mereka sudah ada di sebuah Kafe. Laura masih terlihat kaku menjalani hubungan denga Sahlan. Dia lebih memilih banyak diam membuat Sahlan bingung sendiri.