Mohon tunggu...
Ujang Ti Bandung
Ujang Ti Bandung Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasioner sejak 2012

Mencoba membingkai realitas dengan bingkai sudut pandang menyeluruh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Yang ada di kepala para pemikir itu bukan kebenaran tetapi 'kacamata sudut pandang'

15 September 2015   17:14 Diperbarui: 15 September 2015   18:11 228
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

…

Plato-Aristoteles-Thomas Aquinas-Kierkegard-Descartes-Leibniz-David hume-Imanuel Kant-Martin Heidegger-Derrida dan banyak lagi, adalah orang orang yang dikenal oleh dunia sebagai para pemikir besar yang melahirkan ide ide besar yang banyak menginspirasi fikiran umat manusia.mereka adalah orang orang yang selalu memikirkan hal hal-ide ide yang bersifat mendasar seperti ‘realitas’-‘pengetahuan’-kebenaran’, tetapi hal mendasar yang sekarang patut untuk kita pertanyakan adalah : (karena mereka selalu berbicara tentang ‘kebenaran’) maka,apakah secara otomatis yang ada dalam isi kepala mereka juga adalah ‘kebenaran’ (?)

Menurut saya bukan atau tepatnya : belum tentu,sebab menurut saya yang ada dalam isi kepala mereka tepatnya adalah ‘kacamata sudut pandang’ (terhadap kebenaran) dan tentu bukan kebenaran an sich itu sendiri. alasan yang tepat untuk menyatakan demikian adalah : kebenaran itu adalah suatu yang essensi terdalamnya satu-didalam essensi terdalamnya itu tidak terdapat dua atau tiga apalagi lebih substansi yang satu sama lain saling berlawanan sehingga saling meruntuhkan,sebab bila demikian yang terjadi maka kebenaran itu sendiri secara otomatis menjadi tidak akan dapat berdiri tegak-akan runtuh.sedang kita semua tahu bahwa apa yang ada dalam isi kepala para pemikir besar itu satu sama lain ternyata berbeda-berlainan dan bahkan dapat berlawanan satu sama lain.kalau yang ada dalam isi kepala mereka adalah ‘kebenaran’ maka tentu isi kepala mereka akan sama persis antara satu dengan lainnya tanpa ada pertentangan-perpecahan-perdebatan atau bentuk pemikiran yang saling berupaya meruntuhkan satu sama lain,analoginya ibarat kita semua sama sama bersepakat bahwa merupakan ‘kebenaran mutlak’ bahwa matahari adalah benda langit yang bersinar di pagi hari dan tenggelam di malam hari atau sama sama bersepakat bahwa sifat api adalah panas

Artikel sederhana ini sekedar mengingatkan kepada para pembaca agar tidak dibingungkan oleh persoalan ‘kebenaran’ yang ditafsirkan secara berbeda beda dari zaman ke zaman oleh para pemikir yang berbeda beda,sehingga (karena bingung itu) bisa jadi lalu menjadi seorang yang skeptik dengan kebenaran dan lalu beranggapan bahwa ‘tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak’ karena melihat penafsiran para pemikir terhadap hal itu berbeda beda dan bahkan bisa berlawanan satu sama lain

Adanya pandangan yang berbeda beda serta bisa saling berlawanan satu sama lain itu tidak dengan sendirinya menggambarkan karakter dari kebenaran itu sehingga kebenaran itu harus dianggap ‘relatif’-‘tidak bersifat mutlak’,karena karakter kebenaran itu bersifat otonom-tidak bergantung pada penafsiran manusia yang bisa beraneka ragam.dengan kata lain kebenaran tidak bergantung pada para penafsirnya.apapun apel kata orang maka hakikat apel tetaplah apel.sehingga kekeliruan mendasar manusia dalam melihat dan memahami kebenaran adalah memparalelkan kebenaran dengan manusia-para penafsirnya

Mengapa pandangan manusia terhadap kebenaran bisa berbeda beda ?.. ada banyak argumentasi tentang hal itu,pertama adalah : karena manusia melihat serta menafsirkannya dengan menggunakan kacamata sudut pandang yang berbeda beda.ibarat sebuah rumah ber cat putih yang dilihat oleh orang orang yang memakai kacamata yang beraneka warna,ada yang merah-hijau-biru dlsb.sehingga bagi yang melihatnya dengan menggunakan kacamata berwarna merah maka rumah itu akan nampak merah,bagi yang menggunakan kacamata berwarna biru akan nampak biru padahal hakikat rumah itu berwarna putih.bayangkan melihat dan lalu menafsirkan kebenaran dengan menggunakan kacamata sudut pandang materialisme di satu sisi dan idealism di sisi lain,atau rasionalisme di satu sisi dan empirisme di sisi lain

Dengan kata lain, kebenaran itu hakikatnya satu tetapi ditafsirkan oleh manusia ke berbagai arah yang berbeda beda sehingga menjadi nampak seperti banyak sehingga bisa menjadi nampak berlawanan satu sama lain,sehingga seorang yang tidak melihat hingga ke hakikatnya yang terdalam mungkin akan berpandangan bahwa kebenaran itu ‘relatif’-tidak bersifat mutlak dan lalu ia memilih menjadi seorang yang berpandangan skeptik terhadapnya 

 Lalu kedua,karena kebenaran itu suatu yang bersifat kompleks-tidak sederhana-tidak satu dimensi, sehingga didalamnya selalu ditemukan  problem keilmuan yang rumit dan pelik.dan masalahnya manusia cenderung menelusuri-menemukan dan menggumuli bagan per bagan yang ditemukannya atau memasuki ruang-dimensi yang berbeda beda antara satu dengan lainnya.bayangkan, kaum rasionalist dan kaum empiris mereka sebenarnya memasuki dua ruang-dimensi yang berbeda dan karenanya apa yang mereka temukan bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk disatu padukan satu sama lain.karena kebenaran (mutlak) akan difahami apabila dilihat dan difahami secara menyeluruh tidak orientasi hanya ke satu bagan semata.kecenderungan manusia yang orientasi pada bagan-tidak berupaya melihat dan memahami keseluruhan inilah yang membuat mereka terpecah belah dalam memahami kebenaran.apa yang manusia temukan dalam idealisme-materialisme-rasionalisme-empirisme-eksistensialisme hingga fenomenologisme sebenarnya baru sebatas bagan demi bagan atau ruangan demi ruangan dari istana besar yang bernama ‘kebenaran’. sebagai contoh,betapapun Descartes telah berupaya berfikir sistematis tetapi apa yang ia temukan tetaplah hanya satu bagan dari keseluruhan yaitu bagan yang dapat ditangkap oleh kesadaran (langsung) fikiran manusia,betapapun Immanuel Kant telah berupaya membangun konsep metafisika yang berpijak pada jaringan ‘system’ yang dapat dianalisa dan di sintesa kan tetapi yang dapat ditemukannya tetaplah hanya satu bagan dari realitas keseluruhan,yaitu bagan yang dapat di analisa dan di sintesa kan oleh rasio-pengalaman manusia,sedang teramat banyak bagan lain dari realitas yang tidak dapat ‘dimatematikakan’

Sehingga bila ingin memahami kebenaran secara menyeluruh maka bertanyalah kepada seorang yang bisa menyatu padukan keseluruhan bagan per bagan nya.analoginya,bila anda bertanya perihal  bangunan kepada para tukangnya maka mereka akan mengungkap bagan yang terbiasa mereka gumuli, tukang batu akan mengungkap bagan dari bangunan yang biasa mereka kerjakan,demikian juga dengan tukang ledeng,tukang besi beton dlsb.sehingga untuk memahami keseluruhan dari bangunan itu mau tak mau kita harus bertanya pada sang arsitektur nya.itulah,bila anda memasuki dunia filsafat maka anda harus siap dengan orang orang yang pertama,melihat dan menyelesaikan problem kebenaran dengan kacamata sudut pandang yang berbeda beda,dan kedua orang orang yang tentu saja tidak mengungkap keseluruhan melainkan sebatas menemukan atau menelusuri bagan per bagan

Dan ketiga,karena kebenaran itu suatu yang berlapis-bertingkat dan tidak semua orang yang mencarinya dengan serta merta dapat memasuki seluruh lapisannya.sebagai contoh,seorang yang bersudut pandang materialist tentu akan sulit bahkan tertutup pintu baginya untuk masuk ke lapisan kebenaran yang ada di lapisan dunia metafisik sebab mereka memutuskan hanya bergumul pada bagan yang bersifat fisik,berapa yang masih tetap selalu berada pada lapisan pertama,berapa yang sudah menginjak ke lapisan berikutnya.dan seorang yang masih berada di lapisan pertama bisa jadi akan berbeda atau bahkan berlawanan pandangan dengan seorang yang sudah naik ke taraf lapisan berikutnya.atau dengan kata lain,adanya berbagai pandangan yang berbeda beda itu sebenarnya karena masing masing berada pada lapisan-tingkatan yang sudah berbeda beda (!).. itulah,hal demikian suatu yang perlu difikirkan secara sungguh sungguh.

………………

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun