Setelah kasus video berisi rekaman pidato Ahok yang dianggap melakukan pelecehan terhadap tafsiran atas satu ayat teks suci  tertentu maka wacana-opini seputar penafsiran teks suci pun menjadi berkembang luas di masyarakat,yang lalu seolah mengerucut pada persoalan : siapa sebenarnya yang paling berhak melakukan penafsiran atas teks suci ?
Kasus diatas membuat turunnya para ‘pendekar’ ahli tafsir baik yang sungguhan maupun yang ‘dadakan’,uniknya tafsiran serta sikap mereka terhadap teks suci berbeda beda, misal,ada yang pro membela  tafsiran  versi  (yang diingini)  Ahok dan ada yang menyalahkannya.karena para penafsir itu ternyata  datang dari  orang orang yang berbeda agama dan mereka seolah memiliki kepentingan untuk menafsir sesuai dengan  kepentingannya masing masing. misal, ada yang tak menghendaki tafsiran atas ayat suci tertentu sebagaimana yang dipegangoleh ‘mainstream’ karena dianggapnya dapat mengebiri hak politik seseorang,atau lalu dibenturkan dengan masalah kepentingan negara
Pertanyaannya : mungkinkah teks suci dapat melahirkan dua penafsiran yang essensinya saling berlawanan satu sama lain , atau,..apakah penafsiran itu akan berjalan mengikuti kepentingan para penafsirnya masing masing yang bisa berbeda beda ?
Dan mengapa bisa berbeda pandangan,salah satu sebabnya bisa berawal dari karena dua fihak yang menafsir berpijak atau mengacu pada konteks yang berbeda beda.karena dalam wacana penafsiran, ’konteks’ sering disandingkan dengan ‘teks’ dan sering disebut menjadi bagian dari ilmu penafsiran. tetapi dari sanalah-dari  kegiatan mengutak atik ‘konteks’ lalu sering lahir perpecahan dalam penafsiran.Â
Sehingga; mungkinkah suatu  ‘konteks’ dapat dikutak katik sedemikian rupa sehingga lalu makna teks yang disandarkan kesana dapat bersesuaian dengan kehendak sang penafsir nya, atau, apakah tujuan sang penafsir dapat di sandarkan pada konteks konteks tertentu yang seolah dapat ‘dipilih’ sesuai keinginannya ?
Dan sebagaimana kita tahu bahwa bila acuan nya ‘konteks’ maka ada berbagai konteks yang dapat berdiri dibalik suatu teks semisal : ruang-waktu-sejarah-budaya-bahasa-dlsb.dalam konteks bahasa misal,sebagian penafsir ada yang membawanya ke ranah wacana hermeneutika yang membuat makna suatu teks bisa berlainan dengan makna asli nya apabila sang penafsir membuat makna baru atas bahasa yang digunakan membungkus teks suci.lalu suatu penafsiran tertentu dapat ditolak dengan dalih bahwa tafsiran itu dianggap hanya berlaku untuk konteks ruang waktu tertentu-bukan untuk konteks ruang-waktu ke kinian
Itulah ‘konteks’ yang dapat menjadi instrument pemandu bagi manusia dalam upaya memahami maksud tujuan suatu teks suci tetapi di sisi lain seolah dapat ‘diperalat’ oleh sang penafsir demi untuk  maksud tujuannya masing masing, seorang penafsir yang dianggap ‘liberal’ misal mereka merekonstruksi makna ayat suci yang dianggap sudah ‘pakem’ dengan menggonakan konteks tertentu dan berdasar bingkai pemikiran liberal nya.sebagai contoh: ada seorang intelektual muslim yang dikenal ‘liberal’ lalu menafsirkan ayat suci tentang sorga-neraka dengan penafsiran bahwa sorga-neraka itu bukan realitas hakiki sebab tidak bisa dibuktikan keberadaannya secara empirik dan ayat ayat tentang itu ditafsirkannya sebagai sekedar anjuran moral agar manusia mau berbuat baik. sedang menurut makna aslinya; sorga neraka itu adalah realitas yang hakikatnya  ADA bukan sekedar gagasan untuk menakut nakuti atau meng iming imingi
Dalam kasus teks Al Maidah 51 yang membuat heboh itu dikarenakan ada fihak yang tidak menginginkan penafsiran versi tertentu yang dianggap dapat merugikan golongan tertentu secara politis lalu mencari cari ‘konteks’ untuk dijadikan landasan dasar penafsiran secara baru dengan tujuan agar makna ayat itu tidak lagi digunakan oleh golongan tertentu demi untuk tujuan yang dipandang bersifat politis  Â
Pertanyaan penting lainnya : apakah teks suci diturunkan hanya untuk suatu konteks tertentu misal hanya untuk suatu situasi- keadaan serta sebuah zaman tertentu?.. Â tentu saja tidak,teks suci diturunkan Tuhan bersifat universal dalam arti; untuk beragam konteks situasi-keadaan serta zaman yang berbeda beda.
Sebab itulah suatu konteks tidak dapat menjadi acuan mutlak untuk menafsirkan kitab suci karena ‘konteks’ dalam hubungannya dengan teks sebenarnya hanyalah alat-perantara-kemasan-bukan menunjuk pada ‘essensi’.essensi dari teks suci tidaklah melekat pada konteks tertentu.lalu dimana-kepada apa sebenarnya  essensi dari teks itu melekat ? .. itulah yang ingin saya telusuri disini dengan tujuan agar jangan sampai masyarakat menerima begitu saja penafsiran atas teks yang sudah terkontaminasi oleh berbagai kepentingan manusiawi yang bisa berbeda beda
.............................