Tahun 2007 lalu saya mendampingi seorang mahasiswa jurusan sejarah di sekolah pascasarjana Universitas Gadjah Mada untuk melakukan riset lapangan di kampung Sikka, kecamatan Lela, kabupaten Sikka-Flores, Nusa Tengara Timur. Si mahasiswa, sebut saja Mr. H. hendak mengkaji bagaimana sejarah dimainkan dan diperankan olehpara perempuan Sikka melalui aktivitas menenun (kain ikat tradisional).
Salah satu simpulan yang ditarik jelas oleh Mr. H. adalah bahwa perempuan Sikka khususnya, dan Flores pada umumnya, menuliskan sejarah dirinya, sosial dan masyarakatnya melalui aktivitas tenun ikat. Ini tercermin dari gambaran perkembangan motif tenun sejak masa awal tradisional, sampai ke pengenalan dengan alat tenun semi modern dan teknologi modern.
Motif tenun ikat perempuan Sikka juga menceritakan pola perkembangan sejarah masyarakat Sikka dari masa ke masa, seperti proses transformasi sosial dan politik yang terjadi, tertulis dalam motif tenun. Ia mencatat bagaimana pengaruh misi gereja memberi warna pada penulisan motif tenun seperti kemunculan gambar malaikat dan burung pelican dan motif kelang suster, sebagaiamana kemunculan motif gambar manusia sebagai sepasang ayam yang merupakan pengaruh dari Portugis. Sebelumnya, motif-motif kuno dan tradisional tenun ikat Sikka lebih banyak mengambil inspirasi dari alam, hewan-hewan yang dekat dengan kehidupan tradisional orang Sikka dan juga tumbuh-tumbuhan.
Tenun dan keperempuanan
Menenun, bagi perempuan Sikka, yang saya temui bukan hanya sebagai aktivitas tradisional dan ekonomi. Lebih dari itu, menenun adalah sebuah konstruksi identitas keperempuanan. Menenun adalah aktivitas yang hanya dilakukan oleh perempuan, tidak oleh laki-laki. Laki-laki yang melakukan aktivitas menenun dianggap oleh sebagian perempuan Sikka sebagai bukan laki-laki sejati, atau sering diberi stigma “banci”.
Pekerjaan laki-laki adalah bekerja di ladang, pergi ke kebun atau melaut menjdi nelayan. Hal itupun dikenalkan kepada para anak laki-laki sejak awal. Mereka tidak diperkenankan untuk mendampingi atau bersama dengan para perempuan yang tengah menenun, danbermain ke tempat lain dianggap lebih baikbagi mereka anak laki-laki.
Pengerjaan sebuah karya tenun ikat tradisional yang masih menggunakan bahan-bahan alami bisa menjadi sebuah mahakarya yang merupakan hasil kerja selama bertahun-tahun. Kemampuan menenun seorang perempuan Sikka juga dianggap sebagai penanda kedewasaan dan kesiapan untuk memasuki jenjang perkawinan.
Pendidikan keterampilan menenun oleh perempuan Sikka bagi anak-anak perempuannya dilakukan sejak dini. Kegiatan dan proses menenun dikenalkan kepada anak perempuan dengan cara mengajak serta mereka dalam proses menenun mulai dari hal yang kecil seperti membereskan peralatan tenun, memintal benang, mengeringkan kapas sampai ke teknik yang lebih kompleks pencampuran bahan-bahan alami untuk membuat corak warna yang diinginkan.
Aktivitas menenun juga merupakan medium bagi perempuan Sikka untuk mengaktualisasi diri karena tenun juga sebuah aktivitas seni yang hasilnya, pada awalnya, lebih diperuntukkan bagi keperluan rumah tangga guna mencukupi kebutuhan sandang suami dan anak-anaknya. Keahlian menenun juga menjadi pertimbangan dan nilai lebih seorang perempuan Sikka ketika dilihat menjelang dewasa, mendekati perkawinan.
Signifikansi
Tenun ikat tradisional memberikan signifikansi penting bagi perempuan Sikka dan kehidupan tradisi dan budaya Sikka. Model dan motif kain tenun yang dipakai oleh perempuan Sikka menunjuk pada posisi, status dan identitas di masyarakat. Kain tertentu hanya digunakan oleh para gadis, sementara para janda hanya menggunakan jenis kain dengan warna hitam (do mithang) selama kurun waktu tertentu sebagai tanda berkabung atas kematian suami atau kerabat laki-laki.
Kain tenun juga menjadi pengikat dan pelestari kehidupan adat masyarakat Sikka. Pada dasarnya, perempuan Sikka tidak menjual karya tenunnya ke pasar, melainkan hanya untuk upacara adat. Upacara-upacara adat mengharuskan penggunaan kain tenun yang berkualitas. Pada upacara perkawinan, pihak perempuan diwajibkan menyediakan sandang untuk keluarga mempelai pria, sebagai salah satu balasan dari belis (mahar) yang diterima dari pihak laki-laki. Sandang yang diberikan ini tentunya diupayakan menggunakan kain yang berkualitas baik, karena menyangkut status keluarga (marga) perempuan. Banyaknya upacara adat dan seni budaya yang masih lestari menyebabkan kebutuhan akan kain tenun senantiasa tumbuh. Kain tenun juga menjadi salah satu barang yang biasa dipergunakan sebagai pertukaran barang dalam upacara adat lainnya.
Bagi perempuan Sikka, kain tenun dari ibunyalah yang menjadi kekayaan waris utama. Dalam adat Sikka, perempuan tidak berhak mendapat harta waris selain “kekayaan milik perempuan” yaitu kain tenun, peralatan menenun dan perhiasan. Sementara barang waris lainnya, tanah, rumah dan ladang hanya milik anak laki-laki.
Dari sisi ekonomi, hasil dari membuat kain tenun juga dirasa dangat membantu perekonomian keluarga.Meskipun pada dasarnya kain tenun tidak dijual, namun bisa menjadi barang adat yang bisa dipertukarkan dengan barang adat lainnya, atau ditukar dengan kebutuhan pokok, sehingga mengurangi beban adat dan ekonomi. Perkembangan dan pengaruh dari kegiatan ekonomi modern lah yang mendorong jual beli kain tenun seperti saat ini.
Berkembangnya sektor pariwisata di Sikka dan Flores pada umumnya membuat kain tenun ikat menjadi komoditas penting sebagai cindera mata yang dihargai cukup tinggi, khususnya kain tenun ikat asli kerajinan yang mengambil bahan-bahan dasar alami. Penggunaan bahan-bahan kimia justru merendahkan kualitas kain tenun ikat asli meskipun tuntutan penggunaan bahan kimia tersebut akhirnya tidak bisa dihindari untuk mengerjakan pembuatan kain tenun secara massal dan lebih cepat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI